Indonesia Tegaskan Kepemimpinan GNB di Tengah Kebuntuan Konferensi NPT 2026

New York, GPriority.co.id – Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong pelucutan senjata nuklir dunia di tengah kebuntuan pembahasan Konferensi Tinjauan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir atau NPT Review Conference (RevCon) 2026 yang berlangsung di Markas Besar PBB, New York.

Pemerintah Indonesia menilai situasi global saat ini semakin memperlihatkan ancaman nyata penggunaan senjata nuklir dan melemahnya komitmen negara-negara pemilik senjata nuklir terhadap agenda perlucutan.

Melalui Kementerian Luar Negeri, Indonesia menegaskan perannya sebagai koordinator Gerakan Non-Blok (GNB) dalam isu pelucutan senjata nuklir.

Posisi tersebut dinilai penting untuk menjaga suara negara-negara berkembang agar tetap diperhitungkan dalam forum internasional yang membahas keamanan global.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, mengatakan Indonesia akan terus menyerukan pentingnya mengatasi ancaman senjata nuklir yang semakin nyata bagi dunia.

“Kita akan terus menyerukan pentingnya untuk mengatasi ancaman senjata nuklir yang semakin nyata bagi dunia,” ujar Yvonne dalam taklimat media di Jakarta.

Indonesia juga menilai Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) masih menjadi instrumen paling penting dalam menjaga stabilitas keamanan global.

Pemerintah menekankan bahwa seluruh negara anggota harus menjalankan kewajiban NPT secara menyeluruh, terutama terkait pelucutan senjata nuklir.

Dalam forum tersebut, delegasi Indonesia yang berasal dari Perutusan Tetap RI di New York, Jenewa, dan Wina aktif menyuarakan perlunya penguatan multilateralisme di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia.

Indonesia juga menyoroti modernisasi arsenal nuklir yang masih dilakukan sejumlah negara besar.

Duta Besar RI untuk PBB, Umar Hadi, dalam pidatonya menyebut dunia saat ini menghadapi situasi yang semakin mengkhawatirkan.

Ia menyinggung masih adanya lebih dari 12 ribu hulu ledak nuklir yang terus dimodernisasi dan digunakan sebagai alat tekanan politik internasional.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri RI Sugiono juga mengingatkan bahwa agenda pelucutan senjata global mengalami kemunduran akibat ketidakpastian geopolitik dan melemahnya pengendalian senjata internasional.

Ia menilai berakhirnya perjanjian New START antara Amerika Serikat dan Rusia memperbesar risiko perlombaan senjata nuklir baru.

Konferensi NPT RevCon 2026 sendiri berlangsung sejak 27 April hingga 22 Mei 2026. Forum tersebut menjadi ajang evaluasi implementasi perjanjian internasional yang bertujuan mencegah penyebaran senjata nuklir, mendorong penggunaan teknologi nuklir secara damai, serta memperkuat agenda perlucutan senjata dunia.