Kriminalitas di Ibu Kota Kian Marak, DPRD DKI: Jakarta Turun Kelas

Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Justin Adrian Untayana/Foto Fraksi PSI Jakarta

Jakarta, GPriority.co.id – Belakangan ini, DKI Jakarta mengalami rentetan aksi kriminalitas seperti tawuran, pencurian, pemerasan, hingga judi online (judol).

Sepanjang Januari–April 2026, kepolisian telah mengungkap 171 kasus kejahatan yang terdiri dari pencurian kendaraan bermotor, pencurian dengan kekerasan, dan pencurian dengan pemberatan.

Rinciannya, 86 kasus merupakan pencurian dengan pemberatan, 75 kasus pencurian kendaraan bermotor, dan 10 kasus pencurian dengan kekerasan. Korban dalam kasus tersebut tidak hanya warga Jakarta, tetapi juga warga negara asing (WNA).

Kondisi ini membuat situasi keamanan di Jakarta dinilai semakin meresahkan, bahkan Jakarta Barat disebut-sebut dijuluki sebagai “Gotham City”.

Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Justin Adrian Untayana, menilai kondisi tersebut dapat menurunkan citra ibu kota.

“Alih-alih naik level menjadi Global City, seperti yang dicita-citakan oleh Mas Pram (Pramono Anung), Jakarta malah turun kelas menjadi sarang kriminalitas seperti di Gotham City,” kata Justin dalam keterangannya, Senin (25/5).

la mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menindak tegas para pelaku kejahatan, termasuk kasus tawuran, balap liar, dan perundungan yang kerap melibatkan anak di bawah umur.

“Sejak kecil ini, anak-anak kita perlu dididik dengan tegas. Jangan lagi anak-anak yang terlibat tawuran hanya diberikan pembinaan saja untuk kemudian dilepas lagi ke orang tuanya dengan berbekal surat pernyataan bermeterai. Sudah jelas langkah tersebut tidak efektif,” tegasnya.

la juga mengusulkan agar Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus hingga bantuan sosial (bansos) keluarga pelaku kejahatan dapat dicabut sebagai bentuk efek jera.

“KJP (Kartu Jakarta Pintar) Plus-nya harus ditarik. Lebih jauh, bansos (bantuan sosial) keluarga-keluarga yang anggotanya terlibat dalam kejahatan-kejahatan seperti itu juga perlu dicabut. Ini mesti dilakukan untuk memberikan efek jera dan memberikan contoh kepada orang lainnya agar tidak melakukan kejahatan yang sama,” jelasnya.

Justin menegaskan, upaya menjadikan Jakarta lebih aman tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat keamanan dan sekolah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat, dimulai dari lingkungan keluarga masing-masing.