Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama PT Roche Indonesia menggelar Forum Jurnalis Kesehatan Seri Kedua bertema “Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik” di Jakarta, Senin (20/7).
Forum ini menekankan pentingnya deteksi dini melalui skrining retina secara rutin sebagai upaya menekan angka kebutaan akibat komplikasi diabetes di Indonesia.
Hadir sebagai narasumber Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Perwakilan Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epid., Ph.D., Sp.M., Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD, serta Anita Permata Sari, SE, BBA (Hons), MM, Patient Advocate Diabetes Tipe 1 sekaligus Program Manager Women in Diabetes DIID.
Dalam diskusi, Prof. Em Yunir menjelaskan bahwa pengendalian gula darah merupakan langkah penting untuk menekan risiko komplikasi diabetes, termasuk retinopati diabetik. Namun, ia menegaskan bahwa kadar gula darah yang terkontrol bukan satu-satunya faktor yang menentukan.
Menurutnya, pasien diabetes juga perlu menjaga tekanan darah, kadar kolesterol, serta rutin menjalani pemeriksaan kesehatan karena faktor genetik turut memengaruhi munculnya komplikasi.
“Semakin buruk pengendalian gula darah, tekanan darah, dan kolesterol, maka komplikasi akan berkembang lebih cepat. Karena itu, selain mengendalikan diabetes, pasien tetap harus menjalani skrining secara berkala,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Muhammad Bayu Sasongko menjelaskan bahwa retinopati diabetik merupakan komplikasi kronis yang tidak dapat dipulihkan sepenuhnya. Meski demikian, perkembangan penyakit dapat diperlambat apabila diabetes dikelola dengan baik dan pasien menjalani pemeriksaan mata secara rutin.
“Retinopati diabetik tidak bersifat reversible. Namun, dengan kontrol diabetes yang optimal dan deteksi dini, perkembangan kerusakan retina dapat diperlambat sehingga kualitas penglihatan pasien tetap terjaga,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Anita Permata Sari membagikan pengalamannya hidup dengan diabetes tipe 1 dan retinopati diabetik. Ia mengaku penurunan penglihatan terjadi secara perlahan hingga akhirnya harus menjalani berbagai tindakan medis untuk mempertahankan fungsi penglihatannya.
Anita mengajak seluruh penyandang diabetes untuk tidak menunda pemeriksaan retina. Ia memiliki cara sederhana agar tidak lupa menjalani skrining, yakni menjadikan hari ulang tahun atau awal tahun sebagai pengingat untuk melakukan pemeriksaan mata dan evaluasi kesehatan secara menyeluruh.
“Skrining retina setahun sekali sangat penting. Jangan menunggu penglihatan terganggu karena pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan,” ujarnya.
Melalui Forum Jurnalis Kesehatan Seri Kedua, Kementerian Kesehatan bersama PT Roche Indonesia berharap kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, organisasi profesi, komunitas pasien, dan media dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini retinopati diabetik.
Dengan skrining retina rutin dan pengendalian faktor risiko, kasus kebutaan akibat diabetes diharapkan dapat ditekan sekaligus meningkatkan kualitas hidup para penyandang diabetes di Indonesia.
