Soroti Diskriminasi Pasien BPJS, dr. Gia: Selelah-lelahnya Nakes, Lebih Lelah Pasien

dr. Gia Pratama ikut menyoroti kasus diskriminasi pasien BPJS yang dilakukan nakes dan dokter belum lama ini/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah) dr. Gia Pratama ikut menyoroti kasus diskriminasi pasien BPJS yang dilakukan nakes dan dokter belum lama ini/Foto : Dok. GPriority (Nindya Farhah Azzahrah)

Jakarta, GPriority.co.id – Respons dokter sekaligus pegiat edukasi kesehatan, dr. Gia Pratama Putra, terhadap dugaan diskriminasi pasien BPJS Kesehatan menjadi sorotan publik.

Pernyataannya di media sosial Threads viral setelah menanggapi kasus komentar sinis yang diduga dilontarkan oknum tenaga kesehatan (nakes) terhadap seorang pasien BPJS yang telah meninggal dunia.

Melalui akun Threads @giapratamamd, dr. Gia mengajak seluruh tenaga kesehatan untuk kembali mengingat makna profesi yang dijalani. Menurutnya, jas putih dan seragam rumah sakit bukan sekadar atribut kerja, melainkan simbol tanggung jawab moral agar tenaga kesehatan tetap mampu mengendalikan emosi dan menjunjung profesionalisme, meski menghadapi tekanan kerja yang berat.

“Teman-teman dokter, teman-teman nakes. Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi. Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional. Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien. Sakit itu tidak enak,” tulis dr. Gia.

Ia menggambarkan bahwa menjadi pasien bukan hanya menghadapi rasa sakit secara fisik, tetapi juga ketakutan, ketidakpastian, dan kecemasan. Sementara tenaga kesehatan memahami keterbatasan fasilitas, proses administrasi, hingga padatnya layanan rumah sakit maupun sistem BPJS, pasien tidak selalu memiliki pemahaman yang sama.

“Pasien hanya melihat keluarganya kesakitan. Mereka hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, berapa lama harus menunggu, dan apakah ada seseorang yang sungguh peduli kepada mereka. Sering kali cukup kata-kata kita, ‘Mohon maaf ya, Pak, Bu. Saat ini prosesnya masih berjalan. Kami masih menunggu kamar tersedia. Perkiraannya sekitar satu jam lagi. Kami akan terus memberi kabar.’ Bagi orang yang sedang takut, kejelasan adalah bentuk kasih sayang,” ujarnya.

Menurut dr. Gia, hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien bukanlah hubungan atasan dan bawahan, melainkan kemitraan dalam menghadapi penyakit. Ia menekankan bahwa komunikasi yang jujur dan nada bicara yang lembut dapat menjadi “obat pertama” yang membuat pasien merasa lebih tenang.

Lebih lanjut, dr. Gia mengingatkan bahwa kelelahan, kemarahan, maupun frustrasi adalah hal yang manusiawi. Namun, menurutnya, tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan merendahkan atau mempermalukan pasien.

“Lelah dapat dipahami. Marah dapat terjadi. Frustrasi adalah bagian dari hidup. Namun merendahkan pasien, mempermalukan orang yang sedang sakit, atau melontarkan kalimat yang melukai martabat manusia, tidak memiliki pembenaran dari sisi mana pun. Pasien adalah salah satu jalan datangnya rezeki kita. Melalui mereka, ilmu kita memiliki arti, tangan kita dapat menolong, kesabaran kita dilatih, dan terbuka banyak kesempatan mendapatkan pahala. Jadi ayo kita sayangi pasien-pasien kita. Bagi kita mungkin mereka adalah pasien ke-40 hari itu, tetapi bagi mereka, hari itu mungkin adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidupnya. Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan,” tegasnya.

Unggahan tersebut mendapat respons luas dari warganet dan dibagikan ribuan kali. Banyak yang menilai pesan dr. Gia mewakili harapan masyarakat agar pelayanan kesehatan di Indonesia tidak hanya mengedepankan kompetensi medis, tetapi juga empati, komunikasi yang baik, serta penghormatan terhadap martabat setiap pasien, termasuk peserta BPJS Kesehatan.