12 Jam Gowes Sepeda 333 Km Sambil Menyusui, Kisah Isabel King Bikin Takjub!

Atlet sepeda gravel profesional Isabel King, jadi sorotan usai 12 balap sepeda sejauh 333 km sambil menyusui bayinya/Foto : Dok. NY Post Atlet sepeda gravel profesional Isabel King, jadi sorotan usai 12 balap sepeda sejauh 333 km sambil menyusui bayinya/Foto : Dok. NY Post

Amerika Serikat, GPriority.co.id – Kisah Isabel King, atlet sepeda gravel profesional asal Amerika Serikat, menjadi sorotan setelah berhasil menyelesaikan balap sepeda jarak jauh UNBOUND Gravel 200 sejauh sekitar 207 mil atau 333 kilometer saat masih menyusui putrinya, Hazel.

Perjalanan tersebut ditempuh dalam kondisi yang sangat menantang, sekaligus memperlihatkan perjuangan atlet ibu dalam menyeimbangkan olahraga dan menyusui.

Dilansir dari laporan NY Post pada 13 Agustus 2026, King menyelesaikan balapan di Kansas dalam waktu 12 jam 17 menit. Ia sebelumnya berencana berhenti di tengah perlombaan untuk memompa ASI, tetapi akhirnya mampu menyelesaikan seluruh rute tanpa berhenti untuk memompa.

Kondisi perlombaan juga tidak mudah. King harus menghadapi panas, hujan, hingga petir. Untuk memenuhi kebutuhan energi selama balapan, ia mengonsumsi lebih dari 1.250 gram karbohidrat melalui air minum, gel energi, dan makanan ringan.

Menariknya, King bercanda bahwa ASI yang dihasilkan setelah mengikuti perlombaan tersebut menjadi seperti minuman energi. Dalam pemberitaan New York Post, ASI-nya disebut “Red Bull untuk bayi”, merujuk pada konsumsi kafein selama hari perlombaan.

Namun, tantangan tidak berhenti ketika King mencapai garis finis. Setelah balapan, ia hanya mampu memompa sekitar 3 ons ASI, jauh lebih sedikit dibandingkan produksi biasanya yang mencapai sekitar 14 ons. Kondisi tersebut diperkirakan berkaitan dengan tekanan fisik yang sangat berat setelah menjalani perlombaan selama lebih dari 12 jam.

King sebelumnya memang dikenal sebagai atlet yang berusaha menunjukkan bahwa karier olahraga profesional dan kehidupan sebagai ibu dapat berjalan beriringan. Profil atletnya menyebut King sebagai pesepeda off-road profesional sekaligus ibu baru yang ingin berbagi pengalaman mengenai keseimbangan antara menjadi orang tua dan atlet profesional.

Dalam persiapannya, King juga memperhitungkan risiko yang dapat muncul selama menyusui, termasuk saluran ASI tersumbat dan mastitis. Ia menyiapkan persediaan ASI beku sehingga kebutuhan putrinya tetap dapat terpenuhi selama dirinya menjalani perlombaan.

Kisah tersebut menjadi gambaran mengenai besarnya tuntutan fisik yang dapat dialami ibu menyusui yang juga menjalani olahraga ketahanan. Setelah perlombaan, kondisi tubuh King bahkan baru menunjukkan pemulihan latihan yang lebih baik sekitar enam minggu setelah ia berhenti menyusui.

Meski demikian, pengalaman King merupakan kisah personal dan bukan patokan bahwa aktivitas olahraga ekstrem saat menyusui aman dilakukan oleh semua ibu. Kondisi setiap ibu berbeda sehingga kebutuhan nutrisi, hidrasi, pemulihan, dan aktivitas fisik perlu disesuaikan secara individual.