5 Kebijakan Prabowo Tangani Karhutla Kalimantan

Presiden Prabowo Subianto mengambil lima langkah taktis untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan/Foto : Dok. Presiden RI Presiden Prabowo Subianto mengambil lima langkah taktis untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan/Foto : Dok. Presiden RI

Jakarta, GPriority.co.id – Presiden Prabowo Subianto mengambil lima langkah taktis untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk memastikan pemadaman berlangsung cepat, terkoordinasi, serta mampu mencegah kebakaran meluas, terutama di kawasan lahan gambut.

Lima kebijakan pemerintah mencakup mobilisasi tambahan 1.500 personel TNI, optimalisasi operasi pemadaman darat, penambahan enam unit helikopter untuk water bombing, peningkatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta penguatan infrastruktur penanganan lahan gambut.

Langkah pertama adalah mempertebal kekuatan personel di lapangan. Pemerintah mengerahkan tiga batalyon TNI atau sekitar 1.500 personel dari luar Pulau Kalimantan. Mobilisasi pasukan tersebut dilakukan secara bertahap mulai Sabtu hingga Minggu, 23 Agustus 2026.

Kehadiran personel tambahan diharapkan memperkuat upaya pemadaman sekaligus mempercepat respons terhadap titik-titik api yang masih aktif. Aparat juga akan bersinergi dengan unsur pemerintah daerah dan tim penanggulangan karhutla di wilayah terdampak.

Kebijakan kedua berupa optimalisasi operasi darat. Petugas dikerahkan secara maksimal untuk melakukan pemadaman manual, khususnya di lokasi yang sulit dijangkau melalui operasi udara. Strategi ini menjadi bagian penting untuk membatasi penyebaran api dan memastikan titik panas dapat segera ditangani.

Selanjutnya, pemerintah menambah enam unit helikopter berkapasitas besar untuk operasi water bombing. Penebalan armada udara tersebut diharapkan mempercepat pemadaman pada area kebakaran yang luas dan sulit ditangani hanya dengan kekuatan personel di darat.

Langkah keempat adalah memperbanyak Operasi Modifikasi Cuaca. Pemerintah memanfaatkan potensi awan hujan yang terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat untuk mendorong turunnya hujan. Upaya tersebut diharapkan membantu membasahi wilayah yang terbakar sekaligus menekan penyebaran api.

Kebijakan kelima difokuskan pada penguatan infrastruktur lahan gambut. Karakteristik gambut membuat penanganan karhutla menjadi lebih kompleks karena bara dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api di permukaan telah padam.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah memperbanyak peralatan pompanisasi dan bor air. Infrastruktur ini digunakan untuk membasahi lapisan bawah permukaan sehingga bara yang tersimpan di area underground dapat diredam dan risiko munculnya kembali titik panas bisa ditekan.

Kelima kebijakan tersebut menunjukkan pendekatan penanganan karhutla yang menggabungkan kekuatan personel, pemadaman darat dan udara, rekayasa cuaca, serta pengelolaan lahan gambut.

Pemerintah berharap strategi terpadu ini mampu mempercepat pemadaman, mencegah perluasan kebakaran, sekaligus mengantisipasi bara yang masih tersimpan di bawah permukaan gambut.