Jakarta, GPriority.co.id – Lahan kosong di kawasan Jakarta Utara tidak selalu berakhir menjadi ruang terbengkalai. Bagi Akim, petani sayur yang menggarap lahan kosong di sekitar Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara, ruang tersebut justru menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Akim menilai hal terpenting dalam bertani di tengah kota adalah ketersediaan air. Meski kondisi lahannya tidak ideal dan banyak terdapat batu, lahan tetap dapat dimanfaatkan untuk menanam sayuran.
“Kalau kebonan kan jangan jauh dari air. Yang penting ada air,” ujar Akim saat ditemui GPriority langsung di lahan garapannya, pada Selasa (15/9).
Ia mengatakan menanam kangkung relatif mudah dan tidak membutuhkan banyak perlakuan khusus.
“Kalau kangkung paling enak, paling simple. Enggak perlu yang vitamin-vitamin,” katanya.
Untuk pemupukan, Akim menggunakan pupuk yang dibelinya bersama bibit kangkung di kawasan Karang Tengah, Bekasi. Ia juga pernah memperoleh bantuan pupuk dari dinas.
“Itu tahun berapa itu pernah dikasih sekarung tuh. Di dinas,” ujarnya.
Menurut Akim, menanam padi di lahan perkotaan justru lebih rumit karena membutuhkan biaya tambahan untuk melindungi tanaman dari serangan burung. Ia menyebut kondisi serupa juga terlihat di kawasan Halim yang memiliki aktivitas pertanian.

“Tantangan terbesar kalau lahannya mau dibangun saja,” kata Akim ketika ditanya mengenai kendala bertani di tengah kota. Menurutnya, selama lahan masih tersedia, tanah tetap bisa diolah.
“Kalau susahnya lahan, tetap saja bisa kita olah-olah sedikit-sedikit, pasti jadilah,” lanjut Akim.
Dari hasil panen, Akim mengaku penghasilannya cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya sekolah anak.
“Kalau buat perekonomian sih Alhamdulillah cukup. Jadi buat keluarga, buat sekolah anak Alhamdulillah cukup,” tuturnya.
Ia memilih bertani di Jakarta karena pasar dan pesanan lebih menjanjikan dibandingkan di kampung.
“Kalau di kampung kan kita pesanan cuma sedikit. Terus harga juga murah,” katanya.
Untuk kangkung, sekali panen Akim dapat menghasilkan sekitar 600 ikat. Sementara kemangi dapat dipesan hingga 1.500 ikat dengan harga sekitar Rp270 per ikat.
“Biarpun harga sedikit, karena pesenannya banyak kan tetap tertutup,” ujarnya.
Akim mengatakan kemangi dapat dipanen sekitar 27 hari setelah tanam dan kembali dipanen sekitar 10 hari setelah dipotong. Sementara sawi dipanen sekitar satu bulan. Dalam kondisi pasar bagus, satu kali panen sawi bahkan dapat mencapai 4-5 kuintal dari sekitar 100 gram bibit.
Aktivitas Akim menjadi gambaran bahwa urban farming Jakarta, termasuk pemanfaatan lahan kosong untuk pertanian, dapat menjadi sumber pangan sekaligus penghasilan.
Pemerintah Jakarta Utara sendiri terus mendorong pemanfaatan lahan terbatas melalui program urban farming dan ketahanan pangan. ANTARA juga melaporkan Dinas KPKP DKI Jakarta mencatat lebih dari 1.600 lokasi urban farming di Jakarta pada 2026.
