Jakarta, GPriority.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi bersih sekaligus material bernilai tinggi.
Inovasi yang dikembangkan Pusat Riset Teknologi Konversi Energi (PRTKE) BRIN tersebut menggabungkan teknologi gasifikasi dan penangkap karbon untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.
Teknologi tersebut merupakan pendekatan waste to energy dengan mengolah biomassa dan sampah padat atau Refuse Derived Fuel (RDF) melalui proses gasifikasi terkontrol. Proses ini menghasilkan syngas yang mengandung hidrogen, karbon monoksida, dan metana sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Peneliti PRTKE BRIN, Nina Konitat Supriatna, mengatakan persoalan sampah yang tidak dikelola dapat berdampak terhadap kesehatan dan perubahan iklim.
“Saat ini masih banyak sekali sampah yang dibuang secara sembarangan dan tidak melalui manajemen sampah. Sampah yang tidak terkelola akan memicu metan, di mana metan ini sangat besar perannya menyebabkan naiknya gas emisi rumah kaca. Selain itu, pembakaran yang tidak terkelola, juga akan menghasilkan emisi CO2, dioksin, dan furan yang berbahaya bagi kesehatan kita,” ungkap Nina dalam Energy Week 2026 di Jakarta, Rabu (23/9).
Menurut BRIN, penerapan teknologi gasifikasi tersebut berpotensi mengurangi pelepasan metana dan CO2 dari timbunan sampah berkapasitas 150 ton per hari hingga 90 persen. BRIN juga mengembangkan sistem pemilahan sampah otomatis berbasis Artificial Intelligence (AI). Tahap pertama pengembangan telah selesai dan akan dilanjutkan dengan fase berikutnya yang direncanakan berlokasi di Parepare, Sulawesi Selatan.
Tidak berhenti pada produksi energi, teknologi ini juga diarahkan untuk menghasilkan material maju. Limbah plastik dapat diproses pada suhu 1.600 derajat Celsius menjadi Carbon Nanotube (CNT). Sementara itu, residu gasifikasi berupa tar dan char atau arang dikembangkan menjadi bahan isolator dengan performa yang disebut setara dengan komposit komersial.
BRIN juga mengembangkan teknologi penangkapan karbon untuk sektor industri. Salah satunya Calcium Looping yang bekerja sama dengan University of Waterloo, Kanada.
“Calcium looping ini bisa menangkap CO2 sampai 90 persen. Ini untuk industri semen, karena itu adalah sektor yang masalah emisinya bukan hanya dari bahan bakar, tapi juga dari perubahan kalsium karbonat (CaCO3) menjadi kalsium oksida (CaO),” papar Nina.
Sebagai informasi, teknologi gasifikasi BRIN diperkenalkan kepada publik melalui pameran dan simulasi pada 22–24 September 2026 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta.
