Banjarmasin, GPriority.co.id – Sebuah helikopter Super Puma H-225 dengan registrasi VH-HGM yang disewa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jatuh di perairan Sungai Barito, Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Minggu (8/11). Kecelakaan terjadi sekitar pukul 11.58 WITA saat helikopter menjalankan operasi water bombing untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dari tiga awak helikopter, dua pilot berkewarganegaraan Australia, Hugh Andrew John Page dan Michael John Betteridge, ditemukan dalam kondisi selamat dan telah mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, Helicopter Landing Officer (HLO) Yayan Supyansuri, warga negara Indonesia, hingga kini masih dinyatakan hilang dan menjadi fokus operasi pencarian.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan laporan awal menyebut seluruh kru selamat. Namun, pembaruan data BNPB memastikan hanya dua awak yang berhasil ditemukan selamat, sedangkan satu orang lainnya masih dicari.
Basarnas Kantor SAR Banjarmasin mengerahkan 18 personel penyelamat sejak pukul 13.10 WITA. Tim yang dibekali perahu karet kaku (Rigid Inflatable Boat/RIB), peralatan selam, dan pendeteksi bawah air Aqua Eye dijadwalkan tiba di lokasi pada pukul 18.10 WITA.
Operasi pencarian juga melibatkan TNI Angkatan Udara, Polri, Babinsa, serta masyarakat setempat. BNPB menyatakan prioritas utama saat ini adalah pencarian korban hilang, pemulihan kondisi kedua pilot yang selamat, dan pengamanan bangkai helikopter di tepian sungai.
BNPB menegaskan akan memfasilitasi investigasi resmi oleh pihak berwenang untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan. Badan tersebut juga berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keselamatan operasi udara, termasuk kesiapan teknis armada, prosedur pengambilan air, kelaikan awak pesawat, cuaca, serta karakteristik lokasi operasi.
Meskipun terjadi insiden, BNPB memastikan penanganan karhutla tetap berlanjut melalui penguatan operasi darat dan evaluasi ketat terhadap penugasan armada udara.
Kecelakaan ini terjadi hanya beberapa hari setelah helikopter Mi-17V5 milik Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) dengan registrasi HA-5235 jatuh di perairan Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, pada Rabu (4/11). Helikopter tersebut sedang menjalankan misi water bombing di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Dari delapan personel di dalam helikopter, tiga prajurit TNI Angkatan Darat dinyatakan gugur, yaitu Letkol Cpm Dudi Firmansyah, Kapten Cpm Nurhafiz Akbar, dan Sertu Heri Prastiyo. Lima personel lainnya selamat dan mendapatkan penanganan medis.
Dua kecelakaan helikopter dalam kurang dari satu pekan itu menyoroti risiko tinggi operasi pemadaman karhutla dari udara. Pemerintah dan lembaga terkait kini menghadapi tekanan untuk memperkuat standar keselamatan penerbangan, kesiapan kru, serta pengawasan operasi water bombing di wilayah rawan kebakaran.
Foto : Istimewa
