Keamanan Siber Masih Terbilang Lemah di Indonesia, Benarkah?

Penulis : Aflaha Rizal Bahtiar | Editor : Lina F | Foto : Aflaha Rizal Bahtiar

Jakarta, Gpriority.co.id – Kejahatan siber telah menjadi kasus yang marak terjadi, baik dalam media sosial dan juga website perusahaan.

Kejahatan siber yang terjadi adalah adanya aktor hacker yang sering masuk ke dalam website penting, baik itu website yang berhubungan dengan negara, data, sampai perusahaan.

Tentunya, keamanan siber menjadi penting guna melindungi agar website atau platform tetap secure dari kejahatan siber.

“Dulu mungkin masih biasa-biasa saja (pandemi siber). Tapi pas saat Covid, ini menjadi yang utama,” ungkap Brigardir General & Secretariat General of The National Resilience Council, TNI Elphis Rudy, Kamis (27/7).

Dalam pemaparannya di DTICX 2023 yang diselenggarakan di Grand Ballroom JIEXPO Convention Centre Theatre, Jakarta, ia menjelaskan bahwa keamanan siber masih terbilang lemah.

Dalam data pada tahun 2022 yang dipaparkan lewat materinya, terdapat tingginya peretasan 148 situs pada bulan Agustus, yang meliputi situs pemerintah, pendidikan, hingga penegak hukum.

“Dari data fakta yang kita temukan, memang kondisi keamanan siber masih dianggap lemah,” paparnya.

“Di level global, rata-ratanya ada di angka 6,19. Tapi di kita sendiri baru catat 3,64 poin,” ungkapnya.

Menurutnya, ancaman kejahatan siber ini sangat luar biasa. Meski ini tugas yang cukup berat, perlu adanya kerja sama dalam menghadapi kejahatan siber.

Tentunya, semua stakeholder dapat bekerja sama, berkoordinasi, serta kolaborasi dalam tugas dan tanggung jawab masing-masing.