Jakarta, GPriority.co.id – Di zaman nabi, banyak sekali kisah inspiratif yang dapat dijadikan pelajaran hidup. Salah satu kisah menarik di zaman nabi, ialah kisah ahli ibadah yang masuk neraka karena merasa paling benar.
Rasulullah pernah menceritakan kisah dua orang saudara dari kalangan Bani Israil. Dua saudara tersebut memiliki background yang berbeda. Satu orang dikenal sebagai ahli ibadah, sedangkan satunya lagi terkenal sebagai pendosa.
Seseorang yang di cap sebagai ahli ibadah tersebut dikisahkan sering menyaksikan saudaranya yang berulang kali melakukan dosa, hingga ia kerap kali menegurnya.
Sayangnya, berkali-kali menegur, si pendosa tersebut tak pernah menghiraukannya. Ibarat pepatah, ‘masuk kuping kanan, keluar kuping kiri’.
Hingga suatu saat, si pendosa merasa risih hingga keluar sebuah kalimat dari mulutnya,
“Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?”
Saudaranya yang ahli ibadah itu pun merasa kesal dan mengucap,
“Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga!”
Singkat cerita, keduanya pun meninggal dunia dan berkumpul di hadapan Allah SWT.
Allah SWT. pun melayangkan sebuah pertanyaan kepada si ahli ibadah.
“Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?”
Diluar dugaan, justru Allah SWT. lebih mengizinkan si pendosa masuk ke surga-Nya.
“Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku,” kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, “(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka!”
Sebagai informasi, cerita ‘Ahli ibadah masuk neraka dan pendosa masuk surga’ ini tertuang dalam sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad.
Pesan tersirat dalam kisah ‘Ahli ibadah masuk neraka dan pendosa masuk surga’
Kisah ini sesungguhnya memiliki pesan tersirat yang dapat dijadikan pelajaran dan pedoman hidup, khususnya bagi umat muslim.
Artinya, sebagai seorang muslim, jangan merasa paling benar hanya karena rajin beribadah dan dekat kepada Allah SWT.
Sesunggunya, soal surga dan neraka, menjadi hak prerogatif Allah SWT. Rajin beribadah memang merupakan kunci utama untuk masuk surga-Nya Allah.

Namun, ketika kita merasa takabur dan merasa paling benar hingga menghakimi pihak lain, sikap ini bisa menjadi blunder untuk kita hingga akhirnya celaka di akhirat.
Sesungguhnya, ‘perbuatan dosa yang membuatmu menyesal, jauh lebih baik ketimbang beribadah yang disertai rasa ujub.’
Dari kisah ini kita juga bisa belajar mengenai etika dalam ber-dakwah atau menyapaikan ajaran Islam kepada orang lain.
Islam mengajarkan bahwa tugas seorang mubaligh sebatas menyampaikan, bukan mengislamkan apalagi menjanjikan kenikmatan surgawi.
Menghakimi orang akan masuk surga/neraka dan menilai seseorang kafir, bukanlah kapasitas kita sebagai seorang muslim yang baik.
Dalam Islam juga menekankan pentingnya untuk ber-muhasabah atau mengkoreksi diri sendiri, sebelum menilai orang lain. Apalagi jika menganggap ibadah kita dan keimanan kita sebagai seorang muslim, lebih baik daripada orang lain.
Ingatlah, “Wallahu a’lam bishawab.” (Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya).
Foto : Ilustrasi/Freepik
