Gurun Sahara Terendam Banjir Untuk Pertama Kalinya Setelah 50 Tahun

Gurun Sahara Terendam Banjir Untuk Pertama Kalinya Setelah 50 Tahun Gurun Sahara Terendam Banjir Untuk Pertama Kalinya Setelah 50 Tahun

Jakarta, GPriority.co.id – Setelah 50 tahun tak mengalami hujan yang dianggap langka, Gurun Sahara terendam banjir untuk pertama kalinya.

Hujan lebat yang langka mengguyur sebagian gurun Sahara di Maroko tenggara, membawa lebih banyak air daripada yang pernah dialami beberapa daerah dalam beberapa dekade, seperti dilansir dari AP News pada Senin (14/10).

Badai, yang melebihi rata-rata curah hujan tahunan, membanjiri daerah kering seperti Tata dan Danau Iriqui di Gurun Sahara, yang tidak pernah tergenang air selama 50 tahun lamanya.

Meskipun hujan dapat membantu mengisi kembali akuifer air tanah (lapisan batuan yang menyimpan air), hujan pada Gurun Sahara juga menyebabkan kerusakan yang signifikan, termasuk lebih dari 20 kematian dan panen yang gagal.

Pemerintah Maroko memberikan bantuan darurat ke daerah yang terkena dampak. Ahli meteorologi percaya badai ekstratropis (badai kuat yang terbentuk di luar daerah tropis), dapat menyebabkan lebih banyak kelembapan dan badai di masa mendatang.

Dikutip dari Guardian, Curah hujan selama dua hari pada bulan September, melebihi rata-rata tahunan di beberapa wilayah di Maroko tenggara dan menyebabkan banjir.  

Di Tagounite, sebuah desa sekitar 450 km (280 mil) di selatan ibu kota, Rabat, tercatat lebih dari 100 mm (3,9 inci) hujan dalam jangka waktu 24 jam.

“Sudah 30 hingga 50 tahun sejak terakhir kali kita mendapatkan hujan sebanyak ini dalam waktu yang singkat,” kata Houssine Youabeb, seorang pejabat badan meteorologi Maroko.

Banjir Maroko Bulan September, Tewaskan 18 Orang

Bulan lalu, banjir di Maroko menewaskan 18 orang dan dampaknya meluas ke wilayah-wilayah yang terkena dampak gempa bumi tahun lalu. Ada juga laporan tentang waduk yang dibendung di wilayah tenggara yang terisi kembali dengan laju yang sangat tinggi sepanjang September.

“Akibat meningkatnya suhu, siklus hidrologi menjadi lebih cepat. Siklus ini juga menjadi lebih tidak menentu dan tidak dapat diprediksi, dan kita menghadapi masalah yang semakin besar, baik berupa terlalu banyak atau terlalu sedikit air,” ungkap Celeste Saulo, sekretaris jenderal Organisasi Meteorologi Dunia.

Gurun Sahara, yang luasnya 9,4 juta km persegi (3,6 juta mil persegi) merupakan gurun panas terbesar di dunia, membentang di belasan negara di Afrika utara, tengah, dan barat.

Kekeringan yang berulang di Gurun Sahara, telah menjadi masalah di banyak negara ini karena peristiwa cuaca ekstrem meningkat akibat pemanasan global. 

Foto : Al Jazeera