Jakarta, GPriority.co.id – Françoise d’Eaubonne adalah seorang penulis, feminis, dan aktivis asal Prancis yang dikenal sebagai pelopor konsep ekofeminisme. Ia mencetuskan istilah tersebut pada tahun 1974 melalui bukunya Le Féminisme ou la Mort (Feminisme atau Kematian). Dalam karya ini, ia menghubungkan isu-isu patriarki dengan eksploitasi lingkungan, mengusulkan bahwa dominasi terhadap perempuan dan alam adalah dua sisi dari sistem patriarkal yang sama.
D’Eaubonne melihat keterkaitan yang erat antara patriarki dan krisis lingkungan. Beberapa inti pemikirannya adalah Sistem patriarki mendukung eksploitasi perempuan dan alam sebagai “sumber daya” yang bisa dikendalikan, dieksploitasi, dan dimanfaatkan untuk keuntungan segelintir pihak. Sistem ini tidak hanya mengeksploitasi tenaga kerja perempuan tetapi juga menguras sumber daya alam secara berlebihan. Menurutnya, hanya dengan membongkar hierarki kekuasaan patriarki, manusia bisa mencapai keberlanjutan ekologis dan sosial.
D’Eaubonne memperjuangkan ide bahwa penyelamatan planet ini membutuhkan revolusi sosial yang mengakhiri penindasan terhadap perempuan dan perusakan lingkungan. Ia melihat bahwa perempuan sering kali berada di garis depan perjuangan lingkungan karena peran mereka yang erat dengan sumber daya alam, terutama di masyarakat agraris.
Selain isu lingkungan, d’Eaubonne juga terlibat dalam berbagai gerakan feminis dan hak-hak sipil di Prancis. Ia mendukung perjuangan perempuan untuk hak reproduksi dan melawan ketidaksetaraan gender
D’Eaubonne adalah penulis yang produktif, dengan lebih dari 50 buku yang mencakup berbagai genre, termasuk esai, novel, dan puisi. Karya-karyanya sering kali berfokus pada isu-isu politik, sosial, dan lingkungan.
Selain ekofeminisme, Françoise d’Eaubonne aktif dalam kebebasan perempuan dalam menentukan tubuh mereka, termasuk hak untuk aborsi. D’Eaubonne juga mendukung hak-hak kaum LGBTQ+ dan memperjuangkan visibilitas kelompok ini di masyarakat. Ia juga aktif dalam gerakan menentang senjata nuklir, yang ia lihat sebagai ancaman besar bagi keberlanjutan umat manusia dan lingkungan.
Konsep ekofeminisme yang ia perkenalkan telah berkembang menjadi gerakan global, diadopsi oleh aktivis dan pemikir di berbagai belahan dunia, termasuk Vandana Shiva di India dan Wangari Maathai di Afrika. Warisan d’Eaubonne juga terus hidup melalui diskusi akademik dan gerakan lingkungan feminis modern yang menyerukan keadilan sosial sekaligus keberlanjutan ekologis.
Françoise d’Eaubonne mengingatkan kita bahwa krisis lingkungan bukan hanya masalah teknis atau ilmiah, melainkan juga masalah politik dan sosial. Ia percaya bahwa dengan membebaskan perempuan dan menghormati hubungan manusia dengan alam, dunia dapat bergerak menuju masa depan yang lebih baik.
Foto : Istimewa
