Jakarta, GPriority.co.id – Belakangan ini tren jalan kaki ke Mekkah menjadi viral melalui media sosial TikTok dan menarik perhatian netizen. Banyak pengikutnya yang mengklaim jika mereka melakukan tren tersebut dengan berdasar ‘panggilan Allah’.
Kendati demikian, banyak juga dugaan jika para pengikut tren jalan kaki ke Mekkah ini hanya untuk mencari sensasi dan keuntungan dari live TikTok.
Salah satu akun Instagram dengan username @tanahbumbuinfo, menyoroti jika beberapa pejalan kaki sebenarnya tidak benar-benar jalan kaki untuk pergi ke Mekkah. Mereka ada yang kedapatan menggunakan kendaraan. Mirisnya, ada juga yang mengandalkan hadiah dari live streaming.
Sontak, para pengguna TikTok pun membandingkan fenomena tren jalan kaki ke Mekkah ini dengan tren yang sebelumnya juga viral, yaitu ‘mandi lumpur’. Saat itu banyak orang menyebut jika tren mandi lumpur merupakan bentuk ‘mengemis modern’ pada 2025.
Diselidiki lebih lanjut, pemilik akun TikTok dengan username @cevi_99 asal Bandung, mengupdate perjalanannya dan terakhir diketahui berada di daerah Lampung. Saat yang bersamaan, muncul kasus seseorang yang mengaku berjalan kaki ke Mekkah, namun tertangkap kamera sedang naik motor.
Fenomena tren jalan kaki ke Mekkah ini pun langsung mendapat beragam reaksi. Ada yang memberi dukungan, namun banyak juga yang memberikan kritik.
Menurut seorang YouTuber bernama Alman Mulyana yang tinggal di Arab Saudi, menanggapi fenomena tren tersebut dengan berdoa agar siapa pun yang ingin pergi ke Tanah Suci, baik berjalan kaki, naik motor, maupun sepeda, dapat diberikan kemudahan dalam perjalanannya.
Bukan Pertama Kalinya Dilakukan
Adapun tren jalan kaki ke Mekkah ini juga sebelumnya pernah dilakukan oleh Adam Muhammad, seorang pria dari Inggris yang berjalan kaki ke Mekkah pada 2022 dan menarik perhatian dunia.

Tren ini menjadi populer karena kombinasi antara petualangan, ketahanan fisik, dan aspek spiritual yang mendalam. Namun, ada juga kritik terkait keamanan, legalitas perjalanan beberapa negara, serta tantangan fisik yang bisa berisiko bagi kesehatan.
Editor: Novita Intan
Foto : Ilustrasi/Freepik
