Jakarta, GPriority.co.id – Isu susah cari kerja ternyata juga dirasakan oleh anak muda AS (Amerika Serikat).
Laporan mengatakan, lulusan perguruan tinggi di AS kini dihadapkan dengan susahnya cari kerja. Menurut data, tingkat pengangguran di AS bahkan mencapai 5,8 persen dan tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Tak sedikit pula lulusan AS yang terpaksa mengambil kerja paruh waktu (freelance) atau di luar bidang studi mereka. Padahal mereka sendiri telah menghabiskan biaya hingga ratusan juta rupiah untuk menempuh pendidikan tinggi.
Sama seperti di Indonesia, peryaratan pengalaman kerja yang tinggi untuk lowongan kerja pada tingkat pemula, menjadi penyebabnya. Selain itu, di AS juga terjadi perlambatan rekrutmen setelah pandemi COVID-19. Hal ini kian memperburuk situasi. Utamanya pada bidang teknologi, keuangan, serta informasi bisnis.
Mirisnya, kondisi susah cari kerja di AS ini semakin diperparah dengan ketidakpastian ekonomi pada pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Faktor meningkatnya penggunaan teknologi AI juga mulai mengancam para pekerja pada tingkat pemula.
Para ahli memprediksi, tren susah cari kerja di AS ini masih berlanjut dan akan semakin parah ke depannya. DI samping itu, beban mahasiswa yang memiliki utang juga semakin menambah tekanan di kalangan generasi muda AS.
Tak sedikit dari mereka yang mulai mempertanyakan masa depan keuangan serta profesional mereka. Menyiasati hal ini, tak sedikit pula yang semakin mempertimbangkan pilihan jurusan kuliah, agar dapat menyesuaikan diri dengan dinamika pasar kerja yang terus mengalami perubahan.
Foto : Ilustrasi/Dok. Freepik
