Respon Pengamat Politik Soal Pengibaran Bendera One Piece: Ini Bukan Makar!

Bendera One Piece. Foto: Pinterest/Zkings Bendera One Piece. Foto: Pinterest/Zkings

Jakarta, GPriority.co.id – Pengamat Politik sekaligus Dosen Universitas Bung Karno (UBK) Faisal Chaniago menilai fenomena pengibaran bendera One Piece merupakan gerakan simbolik kekecewaan masyarakat terhadap pemerintahan saat ini.

Meski tak mengetahui secara mendalam tentang film tersebut, menurutnya film ini mengangkat sebuah gerakan yang anti terhadap pembentukan penindasan.

“Tidak ada rekayasa dari masyarakat. Karena kecewa terhadap pemerintah sekarang. Yang jelas ini adalah pergerakan sosial non-organik,” ujarnya saat dihubungi GPriority, Selasa (5/8).

Faisal mengatakan pemerintah tidak perlu khawatir atas gerakan ini. Ia justru mempertanyakan seharusnya pemerintah yang perlu mengevaluasi mengapa simbol itu muncul.

“Yang harus dikaji ulang atau merefleksi diri adalah pemerintah. Kenapa kritikan yang muncul di masyarakat? Apa yang terjadi di masyarakat? Kenapa kecewa dia ke saya (pemerintah, red)? Atau ke kami pemerintah? Ada persoalan apa? Itu yang harus dikaji oleh pemerintah. Jangan masyarakatnya disalahkan,” tuturnya.

Faisal menilai bahwa respon pemerintah ini terlalu berlebihan. Gerakan simbolik ini, menurut Faisal, harus menjadi kajian pemerintah terhadap sistem yang memberatkan masyarakat.

“Misalnya, kekecewaan dia dalam penanganan korupsi. Atau, kekecewaan masyarakat dalam penanganan pengangguran. Yang janjinya dulu bisa menciptakan lapang kerja, ternyata tidak.Atau, meringankan beban hidup masyarakat, dimana meningkatkan daya beli masyarakat, ternyata tidak. Kan itu yang harus dikaji oleh dia (pemerintah, red). Kalau terjadi hubungan yang baik, masyarakat tidak akan melakukan gerakan secara simbolik,” sebutnya.

Sementara itu, Faisal juga menyangkal respon pemerintah yang mengklaim bahwa gerakan tersebut merupakan tindakan makar. Menurutnya, tindakan makar terjadi ketika ada kontak fisik untuk merebut kekuasaan.

“Makar misalnya melakukan gerakan fisik. Ini bukan gerakan fisik. Ini gerakan perlawanan secara simbol,” tukasnya.

Disamping itu, Faisal mengatakan masyarakat juga perlu mengetahui soal pengibaran bendera selain merah putih dilarang pada saat peringatan 17 Agustus mendatang.

Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kesakralan yang selama ini dibangun bangsa Indonesia.

“Mungkin peringatan pas 17 Agustus, tolong jangan dipasang, oke lah gitu kan. Karena itu adalah sakral bagi kita, jangan dipasang.”

“Boleh lah ingin buat seperti itu, gitu kan. Tapi kalau sekarang dia memakai simbol One Piece itu sebagai bentuk perlawanan, ya tidak masalah juga, berarti ada sesuatu yang salah di pemerintah, gitu. Itu menurut saya,” kata Faisal memungkasi.

Sebelumnya, publik dihebohkan dengan kemunculan bendera One Piece menjelang HUT Ke-80 RI. Pemerintah menilai gerakan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap simbol negara.