Refleksi Sumpah Pemuda: Suara Mahasiswa, Nasionalisme, Politik, dan Ketidakpastian Masa Depan

Illustrasi mahasiswa. Foto: GPriority/Rizqi Juned Illustrasi mahasiswa. Foto: GPriority/Rizqi Juned

Jakarta, GPriority.co.id – Momentum bersejarah 28 Oktober 1928 merupakan titik kumpul bagi pemuda-pemudi Indonesia, tanpa memandang latar belakang, untuk berdiskusi, merumuskan, dan bersatu demi memperjuangkan kemerdekaan tanah air. Ikrar Sumpah Pemuda lahir sebagai cita-cita luhur persatuan.

Namun, dalam arus perubahan zaman, apakah semangat 28 Oktober kini masih sejalan dengan pandangan generasi muda hari ini?

GPriority berkesempatan mewawancarai tiga mahasiswa salah satu kampus di Jakarta Timur pada Senin (27/10), melalui sambungan telepon dan aplikasi pesan singkat. Untuk menangkap bagaimana pemuda tersebut memaknai Sumpah Pemuda di era kontemporer.

Hasilnya, muncul tiga perspektif utama yang menggambarkan pergeseran fokus perjuangan dari fisik ke intelektual, bahkan kekhawatiran eksistensial.

Mahasiswa pertama bernama Yasser, mahasiswa semester 5 dari Fakultas Bahasa dan Seni, memaknai Sumpah Pemuda dengan menjadikannya sebagai penguatan fungsi bahasa. Baginya, komitmen pada Bahasa Indonesia kini menjadi bahasa perjuangan dalam membangun ulang fondasi demokrasi.

Ia berpendapat bahwa peran bahasa sangat signifikan dalam menyampaikan pesan, berkomunikasi, dan mengatur diksi sesuai dengan kegunaannya dalam kehidupan berdemokrasi. Penggunaan Bahasa Indonesia yang aktif dan benar adalah simbol persatuan yang nyata di ruang publik.

“saya memaknai sumpah pemuda dengan menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa perjuangan dalam membangun ulang demokrasi yang dimana peran bahasa sangat signifikan dalam menyampaikan pesan, berkomunikasi, dan juga mengatur diksi sesuai dengan kegunaannya dalam berdemokrasi,” ujar nya kepada GPriority.

Sementara itu, mahasiswa kedua yang enggan disebut namanya. Berasal dari Fakultas Bahasa dan Seni, memandang Sumpah Pemuda sebagai momentum refleksi dan seruan untuk bertindak kritis. Bersama rekan-rekannya, mereka secara konsisten melakukan kajian-kajian strategis dan mendorong pemikiran kritis terhadap isu-isu yang melanda negara.

Mereka mengampanyekan kepada pemuda-pemudi Indonesia untuk tidak buta politik, mengajak untuk berdiskusi, melakukan kajian, serta mengedepankan akal dan pikiran kritis.

“Kami memaknai sumpah pemuda sebagai momentum untuk mengkampanyekan kepada pemuda pemudi indonesia kini untuk tidak buta politik, mari berdiskusi dan melakukan kajian, dan mengedepankan pakal dan pikiran kritis. untuk mengawal penuh isu yang melanda negara ini dan isu yang menghantui mahasiswa di kampus tercinta kami,” ujar mahasiswa tersebut dengan semangat

Menurut mereka, semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan dalam bentuk proaktif mengawal penuh isu negara, termasuk isu-isu yang membebani mahasiswa di kampus. Bagi kelompok ini, perjuangan bersatu berarti bersatu secara intelektual melawan ketidakadilan.

Namun, narasi yang lebih bernada suram datang dari mahasiswa ketiga. Yang enggan juga disebutkan namanya, mahasiswa tersebut sedang berada di akhir masa studi nya. Ia memaknai Sumpah Pemuda kini dengan kekhawatiran absolut dan ketakutan akan masa depan yang akan ditempuhnya di negara ini.

Ia menyoroti betapa sulitnya mencari kerja di tengah dinamika politik negara yang dianggapnya tidak stabil. Pandangan ini merefleksikan bahwa bagi sebagian pemuda, tantangan terbesar bukanlah lagi penjajah, melainkan ketidakpastian ekonomi dan politik dalam negeri.

“Saya takut akan masa depan saya di sini, saya justru memaknai sumpah pemuda ini dengan kekhawatiran absolut pada masa depan saya di negara ini. apalagi menurut saya politik di negara kita ini memang tidak stabil. ada saja gebrakannya,” ujar mahasiswa tersebut dengan khawatir

Secara keseluruhan, pemaknaan Sumpah Pemuda oleh para mahasiswa hari ini menunjukkan spektrum yang beragam. Di satu sisi, terdapat optimisme dalam penguatan identitas bahasa dan aktivisme politik yang kritis.

Di sisi lain, muncul kekhawatiran mendalam yang terfokus pada stabilitas negara dan masa depan pribadi. Sumpah Pemuda bagi mereka bukan lagi sekadar ikrar masa lalu, melainkan sebuah ujian nyata mengenai bagaimana persatuan dan optimisme dapat dipertahankan di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.

Pewarta: Rizqi Juned
Editor: Dimas A Putra