MUI Nilai Mantan Presiden Layak Dapat Gelar Pahlawan Nasional

Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI). Foto: dok.MUI Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI). Foto: dok.MUI

Jakarta, GPriority.co.id – Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Niam Sholeh, menyampaikan bahwa para mantan presiden Indonesia yang telah wafat layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Ia menilai jasa dan pengorbanan para pemimpin bangsa tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia.

“Setiap zaman ada tokoh pahlawannya. Kita harus menghargai perjuangan para tokoh pemimpin bangsa, termasuk para mantan Presiden yang telah memimpin Indonesia. Mereka adalah pahlawan bagi bangsa Indonesia. Pak Karno, Pak Harto, Pak Habibi, dan Gus Dur, adalah para pemimpin bangsa yang layak menjadi pahlawan,” ujar Niam dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (6/11).

Niam mengingatkan pentingnya menghormati jasa para pemimpin terdahulu tanpa terjebak pada kesalahan masa lalu. Ia menekankan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya, termasuk mereka yang pernah memimpin negeri ini.

“Ia juga mengimbau agar masyarakat tidak terjebak pada dendam atau keburukan masa lalu karena tidak ada pemimpin yang sempurna,” kata Niam.

Lebih lanjut, ia menilai usulan pemberian gelar pahlawan kepada para mantan presiden menunjukkan sikap kenegarawanan Presiden Prabowo Subianto yang berupaya merajut harmoni nasional.

“Dan usulan pahlawan dari para tokoh berbagai latar belakang itu menunjukkan kenegarawanan Presiden Prabowo untuk merangkul dan membangun harmoni serta kebersamaan,” ujarnya.

Dalam pandangan keagamaan, Niam menegaskan bahwa Islam juga mengajarkan pentingnya mengenang jasa dan kebaikan orang yang telah wafat, terutama mereka yang berkontribusi besar bagi bangsa.

“Dalam Islam, diperintahkan untuk mengingat jasa dan kebaikan orang yang telah wafat, terlebih itu adalah pemimpin yang secara nyata telah berjasa dan menanam kebaikan bagi bangsa,” kata Kiai Niam.

Dukungan serupa datang dari Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur. Ia mendukung langkah pemerintah untuk memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dinilainya memiliki peran besar dalam dua masa kepemimpinan berbeda.

Menurutnya, bangsa Indonesia perlu belajar dari sejarah agar bisa melangkah dengan lebih bijak di masa depan.

“Dalam tradisi keilmuan Islam, ada kaidah penting: Al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah, menjaga yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik,” ujar Gus Fahrur.