BMKG Ungkap 1 Bandara di Indonesia yang Siap Hadapi Gempa Megathrust, YIA?

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati pernah menjelaskan jika Yogyakarta International Airport (YIA) menjadi salah satu infrastruktur yang paling siap menghadapi ancaman gempa megathrust dan tsunami/Foto : Dok. BMKG Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati pernah menjelaskan jika Yogyakarta International Airport (YIA) menjadi salah satu infrastruktur yang paling siap menghadapi ancaman gempa megathrust dan tsunami/Foto : Dok. BMKG

Jakarta, GPriority.co.id – Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali menjadi sorotan setelah video yang beredar di media sosial Threads menyebut bandara tersebut sebagai salah satu infrastruktur yang paling siap menghadapi ancaman gempa megathrust dan tsunami.

Video yang diunggah akun Threads @anne.elka79 menampilkan cuplikan pernyataan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. Pernyataan tersebut sebenarnya disampaikan dalam Rapat Koordinasi Peningkatan Upaya Mitigasi dan Peringatan Dini Bahaya Gempabumi dan Tsunami di kawasan YIA pada Jumat, 5 Juli 2024 silam.

Dalam kesempatan itu, Dwikorita mengungkapkan desain YIA telah disiapkan untuk menghadapi skenario gempa berkekuatan sangat besar.

“YIA adalah satu-satunya bandara di dunia yang telah disiapkan dan di-design untuk mampu bertahan terhadap guncangan gempa megathrust dengan Magnitudo 8,7. Dan aman terhadap tsunami yang dipicu oleh gempa megathrust,” kata Dwikorita.

Pernyataan tersebut bukan sekadar klaim yang muncul dari video media sosial. BMKG dalam keterangan resminya juga menjelaskan bahwa YIA dilengkapi berbagai fasilitas mitigasi gempa dan tsunami, termasuk crisis center yang dapat digunakan sebagai tempat evakuasi sementara.

Crisis center tersebut mampu menampung sekitar 2.000 orang. Sementara itu, area terminal mulai dari lantai mezanine hingga lantai dua disiapkan sebagai tempat evakuasi dengan kapasitas mencapai 10.000 orang. Sistem peringatan dini tsunami di YIA juga terhubung langsung dengan BMKG Pusat.

Kesiapan tersebut telah dirancang sejak awal pembangunan bandara. BMKG sebelumnya menyebut YIA dirancang dengan skenario terburuk untuk mampu menghadapi gempa hingga magnitudo 8,8 serta tsunami dengan ketinggian gelombang 12 meter di atas permukaan laut atau genangan sekitar 10 meter dari permukaan topografi.

Selain bangunan tahan gempa, YIA memiliki sejumlah perangkat pemantauan, seperti accelerometer, intensitymeter, serta sistem Earthquake Early Warning System (EEWS). Informasi gempa dan potensi tsunami dapat diteruskan ke area terminal dan crisis center sehingga respons evakuasi dapat dilakukan lebih cepat.

BMKG juga menegaskan bahwa kesiapan YIA tidak berarti ancaman gempa megathrust dapat diprediksi kapan terjadi. Justru, berbagai fasilitas tersebut merupakan bagian dari mitigasi bencana untuk mengurangi risiko apabila gempa dan tsunami benar-benar terjadi.

Kendati YIA memang dirancang dengan standar kesiapsiagaan tinggi terhadap gempa megathrust dan tsunami, tetapi masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi BMKG dan memahami jalur evakuasi ketika terjadi bencana.