Jakarta, GPriority.co.id – PT Kaltim Prima Coal (KPC) berhasil memborong enam penghargaan sekaligus pada ajang Indonesian Circular Economy Award (ICEA) 2025 di Hotel Grand Mercure, Bali, 17–18 November 2025. Capaian ini membuktikan KPC sebagai perusahaan pertambangan yang progresif dalam penerapan ekonomi sirkular.
“Alhamdulillah, KPC meraih enam penghargaan pada ajang ICEA 2025 ini. Salah satunya dinobatkan sebagai perusahaan dengan kepemimpinan korporasi terbaik dalam ekonomi sirkular,” ujar Manager External Relation KPC, Nanang Supriyadi, yang hadir mewakili Presiden Direktur KPC Muhammad Rudy.
Adapun enam penghargaan tersebut ialah:
- Kepemimpinan Korporat Terbaik dalam Ekonomi Sirkular
- Platinum – KPC Peduli Air: Dari Air untuk Kesejahteraan (Tingkat Makro)
- Platinum – Sinergi Mitra Lokal dalam Penyediaan Bibit Reklamasi (Tingkat Makro)
- Emas – Pemanfaatan Air Limbah Tambang sebagai Pengganti Air Permukaan dan Air Tanah (Tingkat Meso)
- Emas – Pemanfaatan Oli Bekas sebagai Pengganti Bahan Baku Solar untuk Campuran Bahan Peledak (Tingkat Meso)
- Perak – Pemanfaatan Ban Bekas sebagai Pengendali Erosi di Lokasi Reklamasi (Struktur Drop Ban) (Tingkat Meso)
Pengakuan tersebut dinilai sebagai hasil dari konsistensi perusahaan dalam mengembangkan program sirkular yang terukur. ICEA 2025 yang dirangkaikan dengan International Conference on Circular Economy and Sustainability (ICCES) 2025 menjadi ruang evaluasi bagi industri dalam merespons isu lingkungan seperti pemanasan global, polusi, serta tekanan terhadap sumber daya alam.
Dalam forum tersebut, Nanang memaparkan presentasi berjudul “Dari Ekstraksi ke Regenerasi: Praktik Ekonomi Sirkular dalam Pertambangan untuk Masa Depan yang Berkelanjutan.”
Ia menyoroti berbagai inovasi KPC, termasuk pemanfaatan ban bekas sebagai pengendali erosi, optimalisasi air bekas tambang, daur ulang oli bekas, hingga kolaborasi dengan kelompok masyarakat dalam penyediaan bibit tanaman lokal untuk reklamasi.
Penyelenggara ICEA 2025 menilai kehadiran KPC sebagai representasi penting sektor pertambangan dalam proses transisi menuju model ekonomi yang lebih efisien, rendah emisi, dan berbasis regenerasi.
Mereka menyebut komitmen KPC sebagai bukti bahwa industri ekstraktif mampu berkontribusi pada perbaikan lingkungan, bukan hanya eksploitasi sumber daya.
Di tengah tuntutan global terhadap adaptasi perubahan iklim dan penurunan kualitas lingkungan, capaian KPC di Bali menjadi indikator bahwa inovasi lingkungan telah menjadi kebutuhan utama industri. KPC pun menegaskan tekadnya untuk tetap berada di garis depan transformasi menuju ekonomi sirkular nasional.
