Ketua PSIK Kritik Pemerintah yang Kerap Gonta-ganti Sistem Pendidikan

Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia), Yudi Latif dalam Seminar Nasional bertema Desain Ulang Pendidikan Indonesia: Strategi dan Inovasi Menghadapi Gelombang Disrupsi Digital dan AI di Jakarta Pusat, Rabu (26/11)/Foto Fifi Abdurahman Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia), Yudi Latif dalam Seminar Nasional bertema Desain Ulang Pendidikan Indonesia: Strategi dan Inovasi Menghadapi Gelombang Disrupsi Digital dan AI di Jakarta Pusat, Rabu (26/11)/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia), Yudi Latif, mengkritisi langkah pemerintah yang kerap mengubah sistem pendidikan setiap kali rezim berganti.

Menurutnya, pemerintah seharusnya konsisten mempertahankan satu sistem pendidikan sejak awal dirancang, agar kualitas pendidikan di Indonesia dapat meningkat.

“Dalam perkembangan sejarah, kita justru dalam dunia pendidikan sering kali, yang baik-baik dari masa lalu ditinggalkan, yang buruk-buruknya dipertahankan,” kata Yudi dalam Seminar Nasional bertema Desain Ulang Pendidikan Indonesia: Strategi dan Inovasi Menghadapi Gelombang Disrupsi Digital dan AI di Perpusnas, Jakarta Pusat, Rabu (26/11).

“Misalnya tentang bagaimana kurikulum yang sering berganti. Padahal pendidikan memerlukan sesuatu yang keberlanjutan, yang relatif bertahan,” tambahnya.

Yudi ini menjelaskan, sepanjang sejarah Indonesia selalu memiliki prinsip mempertahankan tradisi yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.

“Itu sudah menjadi doktrin, bagaimana kita ini mempertahankan yang baik dan mengambil yang lebih baik,” ucapnya.

Karena itu, ia berpesan agar pemerintah tetap menjaga jejak warisan sejarah, seperti tradisi dan fondasi pembelajaran yang konstan, yakni etika, akhlak, berpikir kritis, karakter, dan kecakapan literasi dasar.

Selain itu, Yudi mengingatkan kepada semua pihak untuk tetap terbuka terhadap inovasi baru sesuai perkembangan zaman, termasuk teknologi AI.

“Dengan cara itu, kita bisa punya kepribadian dan pada saat yang sama bisa tetap ter-update dengan praktik-praktik terbaik yang datang dari luar,” pungkasnya.