Manggarai Timur, GPriority.co.id – Kondisi SDN Mboeng di Desa Kaju Wangi, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi sorotan setelah sekolah tersebut menerima bantuan smart TV layar sentuh di tengah kondisi bangunan yang memprihatinkan dan belum tersedianya listrik.
Sorotan itu mencuat setelah sosiotraveler Alwi Johan mengunggah kondisi SDN Mboeng melalui akun media sosial @alwijo. Dalam rekaman tersebut, terlihat ruang sekolah dengan dinding bambu yang sejumlah bagiannya berlubang dan lantai masih berupa tanah. Sekolah tersebut diketahui berdiri sejak 2008.
“Bangunan sekolah ini sangat menyedihkan. Dindingnya terbuat dari bambu. Lantainya dari tanah dan lihat dindingnya sudah berlubang di segala sudut. Sejak berdiri di tahun 2008 SD ini nggak pernah direnovasi sama sekali,” kata Alwi dalam unggahannya.
Alwi juga mempertanyakan prioritas bantuan yang diberikan. Menurutnya, perbaikan bangunan dan pemenuhan infrastruktur dasar seharusnya menjadi kebutuhan mendesak sebelum perangkat teknologi digunakan untuk menunjang pembelajaran digital.
“Ya listrik belum ada tapi TV sebesar ini sudah ada terparkir dengan manis di ruang guru,” sentil Alwi.
Guru SDN Mboeng, Selviana Lantuk, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan smart TV bantuan pemerintah belum dapat digunakan karena sekolah belum memiliki akses listrik. Pihak sekolah bahkan sempat mencoba menyalakan perangkat menggunakan generator, tetapi daya yang tersedia tidak mencukupi.
“Ya itu nyata,” ujar Selviana saat dikonfirmasi pada Senin (7/9). Ia menambahkan, “Kami selama ini pakai generator, cuma karena ya itu sudah daya tidak bisa apa (tidak kuat), ya (TV layar sentuh tidak bisa digunakan).”
Namun, informasi mengenai kondisi sekolah mendapat penjelasan dari Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Manggarai Timur, Marsellus Manggas. Ia mengatakan perangkat tersebut merupakan bantuan langsung dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), bukan pengadaan pemerintah daerah.
“Papan interaktif digital itu langsung dari kementerian. Itu semua SD dan SMP dapat,” jelas Marsellus.
Marsellus juga mengklarifikasi bahwa bangunan yang viral merupakan ruang kelas darurat. Menurutnya, SDN Mboeng sebenarnya memiliki lima ruang kelas permanen. Pemerintah daerah telah mengusulkan revitalisasi ruang darurat tersebut dan saat ini usulan masih dalam proses verifikasi Kemendikdasmen.
“Tahun ini sudah diusulkan revitalisasi. Sementara diverifikasi oleh Kementerian Pendidikan. Mudah-mudahan diaminin,” kata Marsellus.
Kasus SDN Mboeng pun menyoroti tantangan pemerataan fasilitas pendidikan di NTT, terutama bagaimana bantuan teknologi pendidikan dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan infrastruktur dasar seperti bangunan sekolah dan akses listrik.
