Anak Muda Dominasi Pengangguran di Indonesia, Jumlahnya Tembus Jutaan!

Per Mei 2026, lulusan sarjana yang menganggur di Indonesia tembus lebih dari 1 juta jiwa/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik Per Mei 2026, lulusan sarjana yang menganggur di Indonesia tembus lebih dari 1 juta jiwa/Foto : Ilustrasi Dok. Freepik

Jakarta, GPriority.co.id – Fenomena susah cari kerja masih berlanjut. Laporan menyebut, anak muda mendominasi pengangguran di Indonesia.

Per Februari 2025, 16,16 persen anak muda di Indonesia masih menganggur. Jumlahnya jauh di atas rata-rata nasional yang berada pada angka 4,76 persen. Jika dirinci, dari 44,26 juta penduduk Indonesia dengan rentang usia 15-24 tahun, sebanyak 3,6 juta orang masih menganggur.

Jumlah tersebut hampir setengah dari total pengangguran nasional (48,77 persen). Adapun sebagian besar dari mereka merupakan lulusan SMA/sederajat dengan persentase 60,93 persen. Sementara, 8,78 persen adalah lulusan sarjana atau diploma.

Menepis narasi masih tingginya tingkat pengangguran di Indonesia, Presiden Prabowo baru-baru ini mengatakan jika angka pengangguran dan kemiskinan di Indonesia menurun.

Disampaikan olehnya pada agenda Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Minggu (20/7) lalu, BPS melaporkan data penurunan pengangguran dan kemiskinan tersebut.

Ia berpendapat, narasi yang hadir terutama yang berbunyi ‘Indonesia Gelap’, merupakan perbuatan dari pihak-pihak yang tak senang akan kondisi Indonesia saat ini.

Prabowo mengatakan, saat ini sudah berada di jalan yang benar. Sementara narasi yang memberi pandangan seolah-olah Indonesia dalam keadaan susah, merupakan upaya dari oknum untuk menurunkan semangat untuk bangkit.

Kendati demikian, angka pengangguran yang masih tinggi menjadi pertanda jika saat ini anak muda masih sulit mencari kerja. Bukan perkara soal persaingan yang ketat, tetapi juga karena keterbatasan lowongan kerja, serta persyaratan yang tak masuk akal.

Jika ditarik mundur, data BPS melaporkan per Agustus 2024, anak muda yang menganggur hampir menyentuh angka 3,93 juta orang. Dimana 2,8 juta belum pernah bekerja, sedangkan 1,1 juta pernah bekerja.

Walau mengalami sedikit penurunan daripada tahun sebelumnya, tantangan terkait kompetensi dan kecocokan pasar kerja masih menjadi kendala utama.