Jakarta, GPriority.co.id – Paparan polusi udara secara terus-menerus sejak masa kanak-kanak berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan hingga usia dewasa.
Menurut dokter spesialis paru-paru dari Kailash Hospital & Neuro Institute, India, Dr. AS Sandhya, anak-anak merupakan kelompok paling rentan terhadap dampak polusi udara karena organ pernapasan dan sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan.
“Mereka juga bernapas lebih cepat daripada orang dewasa, yang menyebabkan asupan polutan berbahaya yang lebih besar per kilogram berat badan,” katanya, dikutip dari Hindustan Times, Minggu (25/1).
Ia menjelaskan, kualitas udara yang memburuk umumnya disebabkan oleh paparan polutan seperti partikel halus (PM2.5), nitrogen dioksida, serta berbagai senyawa beracun yang berasal dari emisi kendaraan, aktivitas industri, dan pembakaran bahan bakar fosil.
Partikel berukuran mikroskopis tersebut dapat menembus paru-paru hingga masuk ke aliran darah, sehingga memicu peradangan kronis dan stres oksidatif dalam tubuh.
Dr. Sandhya menyebutkan bahwa paparan polutan udara dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan DNA serta mengganggu pertumbuhan sel normal, yang berpotensi meningkatkan risiko kanker di kemudian hari.
Ia menambahkan, sejumlah penelitian menunjukkan anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan tingkat polusi udara tinggi cenderung mengalami penurunan kapasitas paru-paru, lebih sering terkena infeksi saluran pernapasan, serta mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh.
“Meskipun efek ini mungkin tampak ringan atau sementara di tahun-tahun awal, dampak kumulatifnya dapat signifikan. Paparan jangka panjang selama fase pertumbuhan kritis meningkatkan kerentanan terhadap penyakit kronis yang dapat muncul beberapa dekade kemudian,” ia menjelaskan.
Untuk mencegah dampak jangka panjang tersebut, Dr. Sandhya menyarankan orang tua dan pengasuh agar secara rutin memantau indeks kualitas udara serta membatasi aktivitas anak di luar ruangan saat tingkat polusi tinggi.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga ventilasi udara di dalam rumah tetap baik dan memastikan lingkungan rumah bebas dari asap rokok. Saat polusi berada pada level tinggi, penggunaan masker yang sesuai dapat memberikan perlindungan tambahan bagi anak-anak.
Selain itu, ia merekomendasikan penerapan pola makan seimbang yang kaya buah dan sayuran guna membantu melawan stres oksidatif akibat paparan polutan. Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga dinilai penting untuk mendeteksi dini gangguan pernapasan.
Di tingkat yang lebih luas, Dr. Sandhya menilai perlindungan anak dari dampak polusi udara memerlukan dukungan kebijakan publik, seperti pengurangan emisi gas buang, promosi energi bersih, serta peningkatan ruang terbuka hijau untuk memperbaiki kualitas udara.
