Asap Karhutla Kalimantan Menyeberang ke Malaysia, Warganet: Ujian Terberat Punya Tetangga Indonesia

Salah satu warganet Malaysia keluhkan asap Karhutla Kalimantan yang berimbas ke negaranya/Foto : Dok. Threads @ahmadfaezal4 Salah satu warganet Malaysia keluhkan asap Karhutla Kalimantan yang berimbas ke negaranya/Foto : Dok. Threads @ahmadfaezal4

Malaysia, GPriority.co.id – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan berdampak hingga ke wilayah Malaysia.

Kondisi tersebut memicu keluhan dari sejumlah warga Malaysia di media sosial, seiring memburuknya kualitas udara dan terganggunya aktivitas masyarakat di beberapa wilayah.

Salah satu keluhan datang dari pemilik akun Threads @real__afif. Dalam unggahannya, ia menyindir kondisi yang dialami Malaysia akibat asap lintas batas.

“Malaysia semua benda bagus tapi di mana ujiannya? ujian dia adalah duduk sebelah Indonesia,” tulisnya.

Kabut asap yang berasal dari kebakaran di wilayah Kalimantan dilaporkan terbawa angin menuju Malaysia, khususnya Sarawak. Dampaknya mulai dirasakan masyarakat setempat. Sejumlah sekolah bahkan dilaporkan harus ditutup sementara akibat kondisi kualitas udara yang memburuk.

Persoalan kabut asap lintas batas Indonesia-Malaysia tersebut juga mendapat perhatian media di Malaysia dan Singapura. Fenomena ini kembali menghidupkan persoalan lama mengenai dampak karhutla Indonesia terhadap negara-negara tetangga.

Menanggapi keluhan tersebut, Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang meminta Malaysia dan Singapura tidak hanya menyalahkan Indonesia terkait persoalan asap karhutla. Menurutnya, kedua negara juga memiliki kepentingan ekonomi di Indonesia, termasuk melalui kepemilikan atau pengelolaan perkebunan kelapa sawit.

“Perlu juga disadarkan bahwa Malaysia, Singapura juga punya punya kebun juga di Indonesia. Ya jangan memprotes, tetapi ikut dong pencegahan. Dia buka sawit juga di sini, baik perusahaan maupun orang per orang,” kata Marwan.

Marwan menyampaikan pernyataan tersebut pada Jumat (21/8) lalu, sebagaimana dikutip dari laporan ANTARA. Ia menilai negara-negara yang terdampak asap seharusnya turut mengambil bagian dalam upaya pencegahan kebakaran, terutama karena terdapat perusahaan maupun individu dari negara tersebut yang menjalankan kegiatan perkebunan di Indonesia.

Meski meminta Malaysia dan Singapura ikut berperan, Marwan menegaskan Indonesia tetap memiliki tanggung jawab secara kenegaraan. Indonesia, menurutnya, perlu menyampaikan permintaan maaf kepada negara tetangga sekaligus memberikan penjelasan mengenai kompleksitas penanganan karhutla di wilayah Indonesia yang sangat luas.

Indonesia juga dapat meminta bantuan negara tetangga apabila dibutuhkan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan.

Persoalan karhutla Kalimantan dan kabut asap ke Malaysia kembali menunjukkan bahwa kebakaran hutan tidak hanya berdampak pada masyarakat di wilayah terdampak langsung, tetapi juga dapat menimbulkan persoalan lingkungan dan diplomatik lintas negara.