Jakarta, GPriority.co.id – Varises vagina merupakan kondisi medis yang masih awam dan terjadi ketika pembuluh darah vena di area vagina mengalami pembengkakan akibat aliran darah yang tidak lancar.
Kondisi ini sering kali ditandai dengan rasa nyeri, tekanan, atau ketidaknyamanan terutama saat berdiri lama atau selama masa kehamilan.
Menurut Dr. Abdul Malik Yoga, SpOG, Spesialis Obstetri dan Ginekologi di RS Kemang Medical Care, varises vagina paling sering terjadi karena pelebaran hormon estrogen yang meningkat saat masa kehamilan.
“Selama ini kita tahu varises itu kan pembuluh darah melebar biasanya di kaki, ya. Biasanya pada orang-orang yang suka berdiri lama atau mungkin faktor obesitas, berat badan. Tapi ternyata pembuluh darah ini juga bisa ditemukan pada organ panggul, yaitu paling seringnya di vagina atau dasar panggul,” jelas Dr. Yoga saat diwawancarai GPriority pada Senin (30/3).
Selama masa kehamilan dan hormon estrogen meningkat, terjadi pelebaran darah ke rahim sehingga kehamilan pun bisa tumbuh. Meski pada beberapa kasus pelebaran ini tidak menimbulkan masalah, namun pasca persalinan tak sedikit kaum wanita yang mengeluhkan nyeri di beberapa area seperti selangkangan, panggul bawah, hingga di pinggang. Namun tak perlu khawatir, Dr. Yoga menyebut kondisi ini tidak akan membahayakan ibu maupun bayinya.
“Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya bahwa pelebaran pembuluh darah ini sangat diperlukan oleh rahim dan bayi untuk tumbuh. Jadi sebenarnya malah bagus banget. Cuma pelebaran yang tetap stay pasca persalinan itu bisa buat nyeri saat berdiri, beraktivitas, bahkan saat berhubungan badan,” sebutnya.
Gejala dan Cara Mengatasi Varises Vagina
Dr. Yoga menekankan, kondisi yang dalam bahasa medis disebut pelvic congestion syndrome ini tidak memiliki gejala yang mengancam nyawa walaupun menurunkan kualitas hidup karena rasa tidak nyaman yang muncul. Bahkan beberapa pasien juga menyepelekan kondisi ini.
“Varises vagina ini keluhannya lebih ke nyeri. Jadi bukan keluar cairan. Keluhan ini bisa dikurangi dengan melakukan banyak aktivitas fisik, ya. Banyak olahraga, banyak gerakan-gerakan, stretching dan sebagainya. Lalu kemudian juga bisa dikurangi dengan penurunan berat badan,” ungkap Dr. Yoga.

Begitu pun dengan terapi-terapi hormonal seperti pil KB atau suntik hormon untuk mengurangi pelebaran darah, sehingga tidak menimbulkan nyeri di dasar panggul.
Lebih lanjut Dr. Yoga mengatakan, penanganan medis perlu dilakukan jika nyeri yang dirasakan semakin memberat dan biasanya terjadi setelah 6 bulan gejala dirasakan. Tetapi apabila keluhannya masih dalam jangka waktu satu sampai dua hari atau seminggu, tidak perlu dikhawatirkan.
Kondisi varises vagina juga tidak mempengaruhi proses persalinan normal. Bahkan pasien yang mengalami kondisi ini tetap bisa lahiran normal, menurut Dr. Yoga.
“Jadi pasien tetap bisa lahiran normal. Kecuali memang ada indikasi obstetri yang lain,” tuturnya.
Mengingat keluhan yang muncul bervariasi pada setiap wanita, Dr. Yoga menekankan pentingnya kontrol kehamilan secara rutin yang juga menjadi langkah untuk pencegahan kondisi ini. Terlebih, ada kemungkinan kondisi ini juga akan terjadi pada kehamilan berikutnya.
Berkaitan dengan hal tersebut, saat ini selain layanan obstetrik dan ginekologi, Poliklinik RS Kemang Medical Care juga membuka layanan wellness, untuk kesehatan wanita secara utuh.
Layanan ini bukan hanya untuk ibu hamil dan melahirkan saja, namun juga untuk kesehatan wanita dari mulai remaja, pertama kali haid, hingga saat menopause.
“Karena dalam kondisi tidak hamil itu keluhan-keluhan penyakitnya banyak. Misalnya ada keluhan nyeri haid yang selama ini masih ter-underestimate, atau keluhan vagina mulai kering, kulit keriput saat menuju menopause, bisa terapi disini agar kualitas hidup bisa lebih baik lagi, terutama menyongsong umur yang semakin tua,” pungkasnya.
