Bahlil Pede Harga BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir Tahun

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, usai rapat terbatas di Hambalang, Bogor, pada Rabu (25/3)/Foto : Dok. BPMI Setpres RI Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, usai rapat terbatas di Hambalang, Bogor, pada Rabu (25/3)/Foto : Dok. BPMI Setpres RI

Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026.

Bahlil menyebut keputusan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto usai lawatan ke Rusia dan Prancis.

Ia menegaskan bahwa kondisi pasokan energi nasional masih dalam kategori aman sehingga memungkinkan harga BBM subsidi tetap stabil.

“Bahwa Insya-Allah stok kita di atas standar minimum, baik itu solar, baik itu bensin, maupun LPG. Insya-Allah aman, dan sekali lagi saya katakan bahwa kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden, bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai dengan akhir tahun,” ujar dia dikutip, Jumat (17/4).

Menurut Bahlil, kebijakan ini menjadi kabar baik bagi masyarakat, khususnya kelompok yang paling terdampak oleh fluktuasi harga energi.

Dari sisi fiskal, pemerintah juga menilai kebijakan tersebut masih aman untuk dijalankan. Hal ini didukung oleh harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price yang masih berada di bawah asumsi anggaran negara.

“Doain, ini kan tergantung dengan harga ICP, tapi kalau sampai dengan 100 dolar AS itu sudah aman BBM. Dan sekarang harga rata-rata ICP Januari sampai dengan sekarang itu tidak lebih dari 77 dolar AS. Jadi kita itu baru split 7 dolar AS,” kata Bahlil.

Sementara itu, pemerintah masih menghadapi tantangan kebutuhan impor minyak. Saat ini konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri berada di kisaran 600–610 ribu barel per hari, sehingga masih terdapat kebutuhan impor sekitar 1 juta barel per hari.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah juga membuka peluang kerja sama energi dengan Rusia, termasuk dalam pengembangan infrastruktur strategis seperti kilang dan penyimpanan energi.

“Itu salah satu poin yang kemarin kita bicarakan, bahwa memang ada beberapa investasi mereka yang pick up, sudah siap untuk masuk, tetapi finalisasinya tunggu ada 1-2 putaran lagi dengan kami, khusus untuk menyangkut dengan kilang dan storage. Nanti baru kami akan sampaikan,” ujar Bahlil.