BERTEMU MENTERI INDUSTRI DAN PERDAGANGAN FEDERASI RUSIA, MENTERI BAMBANG BAHAS POTENSI INVESTASI HILIRISASI SDA, EBT, HINGGA KEDIRGANTARAAN

MOSKWA – “Untuk 2020-2024, kerjasama potensial yang dapat dikembangkan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Federasi Rusia adalah pertama, investasi kawasan industri di luar Pulau Jawa dengan berfokus pada hilirisasi sumber daya alam, seperti minyak sawit mentah (CPO), batubara, dan gas yang dapat diolah menjadi bahan baku kimia organik, energi, dan petrokimia. Kedua, investasi pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di beberapa kawasan industri. Ketiga, investasi pengembangan industri kedirgantaraan di Indonesia yaitu melalui pengembangan masterplan industri kedirgantaraan, pengembangan kawasan industri penerbangan, pengembangan industri komponen pesawat terbang, serta pengembangan industri Maintenance, Repair and Overhaul (MRO),” jelas Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dalam   Bilateral Meeting with Minister of Industry and Trade of Russian Federation Denis Manturov. Pertemuan tersebut dilangsungkan dalam rangkaian The Second Stolypin Forum di Moskwa, Rusia, Kamis (23/5).

Dalam empat tahun terakhir, investasi Pemerintah Federasi Rusia di Indonesia mengalami fluktuasi. Pada 2016 dan 2017, sebagian besar investasi Federasi Rusia di Indonesia adalah di sektor hotel dan restoran, tetapi terbesar pada 2018 adalah industri kimia dan farmasi. “Investasi Federasi Rusia di industri kimia dan farmasi meningkat pesat dari USD 183.600 pada 2016 menjadi USD 961.000 pada 2018, atau tumbuh sebesar 423 persen. Minyak sawit mentah (CPO), kopra, dan margarin adalah komoditas ekspor utama Indonesia ke Federasi Rusia, sementara produk setengah jadi dari besi atau baja adalah komoditas impor terbesar Indonesia dari Federasi Rusia. Kita juga memiliki kesamaan dalam hal mengekspor dan mengimpor bahan kimia organik dan karet yang dapat menjadi indikasi ketergantungan produksi,” jelas Menteri Bambang.

Dalam rangka menuju Indonesia Emas dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita USD 13.162 pada 2036 dan USD 23.199 pada 2045, Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan rata-rata manufaktur sebesar 6,3 persen di dalam Visi Indonesia 2045, salah satunya dicapai dengan mengakselerasi pembangunan industri dan pariwisata. “Sektor manufaktur diharapkan dapat menjadi mesin perekonomian Indonesia melalui peningkatan produktivitas, investasi, dan ekspor. Dalam rancangan teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, Pemerintah menargetkan sektor manufaktur dapat tumbuh sebesar 5,34 pada skenario rendah, dan 7,02 pada skenario tinggi,” jelas Menteri Bambang.

Kebijakan sektor manufaktur lima tahun ke depan terdiri atas empat fokus. Pertama, meningkatkan produktivitas pekerja manufaktur, yaitu kolaborasi antara publik dan swasta, peningkatan kualitas Technical and Vocational Education and Training (TVET), dan sertifikasi kompetensi dan keterampilan. Kedua, meningkatkan daya saing ekspor dan partisipasi dalam Global Value Chain (GVC), melalui diversifikasi produk, ekspansi dan pendalaman pasar ekspor, fasilitasi investasi industri hulu dan hilir, (Preferential Tariff Arrangement/Free Trade Agreement/Comprehensive Economic Partnership Agreement) PTA/FTA/ CEPA, dan pengadaan pemerintah. Ketiga, memperkuat pilar pertumbuhan manufaktur, melalui layanan keuangan, ekosistem Hak Kekayaan Intelektual (HKI), ekonomi digital dan industri 4.0, sistem logistik, dan reformasi fiskal. Keempat, mengoptimalkan permintaan manufaktur potensial, diantaranya dari pariwisata serta dari industri halal dan kesehatan.

Manturov menjelaskan Indonesia merupakan mitra strategis dan khusus bagi Rusia sehingga penguatan kerjasama ekonomi yang signifikan sangat diperlukan, antara lain dengan menjajaki secara intensif kerjasama di bidang cybersecurity yang hanya diberikan Rusia secara selektif ke negara mitra terpilih. Minat tinggi lainnya adalah smart cities, shipbuilding, pharmaceuticals, serta meningkatkan arus wisata warga Rusia ke Indonesia yang jumlahnya masih jauh tertinggal dari yang ke Thailand. Secara khusus, Manturov juga ingin mempelajari Visi Indonesia 2045 sehingga dapat memosisikan hubungan Indonesia-Rusia dengan lebih baik lagi di masa depan. “Penting bagi kami untuk menyelaraskan kebijakan dan pendekatan ekonomi kami, dengan apa yang hendak dicapai Indonesia melalui Visi 2045-nya sehingga Rusia terus menjadi mitra strategis Indonesia,” ujar Manturov.(riri)

Related posts