Jakarta, GPriority.co.id – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Subang turut meramaikan ajang Inacraft 2026 di Jakarta Intertational Convention Center (JICC), Jakarta pada 4-8 Februari 2026.
Pada tahun ini, Kabupaten Subang menghadirkan beragam produk unggulan salah satunya, produk fashion ramah lingkungan berbasis ecoprint dari serat nanas.
“Ini ecoprint pada serat nanas, karena Subang itu terkenal dengan icon nanasnya. Ini berasal dari serat nanas, kainnya,” ujar Owner Syazana Craft Ecoprint, Nani kepada GPriority di JCC, Jakarta, Rabu (4/2).
Nani menuturkan, seluruh proses pembuatan ecoprint dilakukan tanpa menggunakan pewarna tekstil sama sekali. Daun-daun segar dari alam ditempelkan langsung ke kain, kemudian melalui proses pengukusan untuk menghasilkan motif alami yang unik.
“Nah proses pembuatannya, kita handmade. Kemudian daun segar ditempel, lalu dikukus. Jadi kita enggak pakai pewarna tekstil sama sekali. Ini alternatif fashion yang ramah lingkungan,” jelasnya.
Menurut Nani, lamanya proses produksi menjadi salah satu faktor utama penentuan harga. Untuk menghasilkan kain ecoprint dari awal hingga siap dijahit membutuhkan waktu yang tidak singkat, terutama karena sangat bergantung pada cuaca.
“Kalau untuk ecoprint, itu dari proses awal dari kain putih. Kemudian jadi berwarna itu. Kalau cuaca bagus, karena kita harus pakai sinar matahari langsung, itu sekitar 7 hari. Baru kain, belum jadi baju,” ungkapnya.
Ia menambahkan, proses panjang tersebut meliputi tahapan skuring hingga morden, yakni proses penguncian warna agar motif tidak luntur.
“Jadi dari mulai kita skuring, kemudian morden. Morden itu cairan untuk mengikat warna dan motif supaya dia tidak luntur. Ini baju yang saya pakai juga tidak luntur dan ini ecoprint,” katanya.
Keunikan ecoprint terletak pada sifatnya yang eksklusif dan tidak dapat diduplikasi. Setiap produk dipastikan hanya ada satu di dunia karena motif daun yang selalu berbeda.
“Dan hanya satu, tidak akan ada yang sama. Jadi baju-baju yang saya buat ini tidak akan ada yang sama. Karena kita tahu daunnya juga macam-macam dan tidak sama. Bahkan ada yang daunnya sisa ulet, tidak bisa diulang,” tutur Nani.
Dari sisi material, ecoprint hanya dapat diaplikasikan pada serat alam seperti sutra dan serat nanas, sehingga tidak bisa menggunakan bahan polyester.
“Satu hal lagi, ecoprint itu tidak terima polyester. Jadi harus dari serat alam. Makanya dipakainya nyaman,” ujarnya.
Untuk harga, Syazana Craft Ecoprint memasarkan produknya dengan variasi yang menyesuaikan bahan dan model. Produk berbahan serat nanas dibanderol sekitar Rp650 ribu, sementara berbahan sutra mencapai Rp850 ribu. Secara keseluruhan, harga produk berkisar mulai dari Rp450 ribu hingga Rp1,3 juta.
