Jakarta, GPriority.co.id – Mata publik saat ini sedang tertuju kepada sosok artis Aurelie Moeremans yang belakangan ini mengungkap masa lalu remajanya yang kelam, lewat buku memoar berjudul ‘Broken Strings’.
Dalam buku tersebut, Aurelie membongkar kisah pilu dirinya saat menjadi korban child grooming di usia 15 tahun. Saat itu, ia menjalin hubungan dengan seorang pria yang usianya hampir dua kali usia Aurelie.
Bukan hanya menjadi korban manipulasi, Aurelie juga mengalami kekerasan dan kontrol dari pasangannya saat itu. Meski di dalam buku Broken Strings pelaku diberi nama samaran ‘Bobby’, namun netizen menduga sosok yang dimaksud ialah aktor Robby Tremonti yang diketahui pernah menikahi Aurelie di tahun 2011, saat Aurelie masih berusia 18 tahun. Bahkan, pernikahan keduanya pun tak dihadiri oleh orangtua Aurelie hingga tidak tercatat di negara.
Aurelie mengaku, pernikahannya dilakukan karena terpaksa hingga ia sempat kabur dari rumah. Jika dilihat dari sisi psikologis, seberapa bahayakah child grooming?
Dilansir dari berbagai sumber, child grooming atau pelecehan anak sendiri merupakan tindakan di mana orang dewasa membangun hubungan, kepercayaan, dan kendali atas seorang anak atau remaja dengan maksud untuk mengeksploitasi mereka, baik secara fisik, emosional, hingga seksual.
Dalam kasus ini, pelaku juga dapat mengisolasi atau bahkan menyalahgunakan korban dengan kekuatan yang dipunya. Child grooming seringkali menjadi langkah awal menuju pelecehan seksual, radikalisasi, dan eksploitasi kriminal atau seksual terhadap anak-anak.
Child grooming dapat terjadi dalam berbagai situasi dan konteks. Misalnya saja lewat pertemuan tatap muka, interaksi daring, di dalam organisasi seperti sekolah atau tempat kerja, melalui media sosial, hingga di ruang publik.
Meski pelakunya kebanyakan merupakan orang asing, namun tak menutup kemungkinan jika hal ini juga bisa dilakukan oleh orang yang dikenal seperti anggota keluarga, teman, rekan kerja, dan bahkan pada kasus Aurelie Moeremans dilakukan oleh pasangannya sendiri.
Pelaku mendapatkan kepercayaan korban dan keluarganya melalui metode-metode seperti berpura-pura menjadi orang lain (mengaku sebagai teman sebaya atau teman online dari korban), memberikan nasihat atau pengertian kepada korban, membeli hadiah untuk korban, dan memberikan perhatian kepada korban, bahkan menggunakan posisi aau reputasi profesional mereka agar tampak dapat dipercaya oleh korban dan keluarganya. Pelaku juga seringkali mengajak korban pergi jalan-jalan atau bahkan berlibur.
Setelah pelaku mendapatkan kepercayaan penuh dari korban dan keluarganya, mereka secara bertahap mengeksploitasi hubungan tersebut dengan mengisolasi korban dari anggota keluarga dan teman-temannya, hingga membuat korban semakin bergantung pada pelaku.
Pelaku kemudian menggunakan kendali mereka untuk membuat korban merasa tidak punya pilihan selain menuruti tuntutan pelaku. Pelaku sering mengancam akan mengungkap rahasia atau perilaku memalukan korban jika korban menolak.
Child grooming secara signifikan dapat memengaruhi kesehatan mental anak dalam jangka panjang. Dampaknya bisa bervariasi tergantung pada situasi keseluruhan korban. Namun, beberapa dampak dan bahaya umumnya yang harus diwaspadai meliputi :
– Trauma emosional, yang meningkatkan risiko masalah kesehatan mental, seperti depresi, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), gangguan kecemasan, dan banyak lagi.
– Kesulitan mempercayai orang lain di masa depan.
– Kesulitan mempertahankan hubungan yang sehat dengan orang lain.
– Gangguan perkembangan emosional dan sosial, seperti menunjukkan perilaku regresif, kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai, atau mengalami kesulitan belajar.
– Peningkatan risiko penyalahgunaan zat di masa dewasa.
– Gangguan makan dan tidur.
– Kesulitan berkonsentrasi di sekolah, yang menyebabkan penurunan prestasi akademik.
– Kecenderungan isolasi sosial dan pikiran untuk bunuh diri.
Agar anak terhindar dari child grooming, dibutuhkan perhatian khusus dari orangtua, pendidik, serta orang dewasa di sekitar anak. Salah satu hal yang dapat dilakukan ialah mendidik anak untuk selalu terbuka dan meninstruksikan kepada mereka untuk berani mengatakan “tidak” pada kontak fisik yang tidak nyaman maupun tidak diinginkan.
Selain itu, membangun komunikasi yang baik dengan anak juga penting. Pastikan mereka merasa nyaman saat berbicara tentang pengalaman dan perasaan mereka dengan orang tua mereka, serta selalu memantau penggunaan internet anak.
