Dibalik Tren Performative Male: Fenomena Sosial, Bukan Cuma Bahasa Gaul!

Jakarta, GPriority.co.id – Fenomena “menggurita”-nya bahasa gaul akibat meningkatnya tren penggunaan media sosial seperti X, TikTok, dan Instagram tentu tidak bisa dipungkiri. Fenomena modernisasi ini juga membuat istilah “Performative Male” kian sering digunakan oleh kalangan muda-mudi belakangan ini.

Publik pun sempat dihebohkan dengan adanya kontes Performative Male yang dimenangkan oleh Keenan, anak dari penulis terkenal Indonesia, Dee Lestari.

Mengutip artikel Bincang Perempuan, istilah Performative Male secara ringkas adalah lelaki yang melakukan, menyukai, dan menjadi sesuatu bukan karena autentik, tapi karena ingin menarik perhatian perempuan progresif. Elle menyebut Performative Male di permukaan tampak seperti antitesis dari maskulinitas toksik. Mereka bicara soal kesehatan mental, dan nyaman dengan menunjukkan sisi feminin. Namun, dibalik semua itu, ada motif lama, yaitu ingin mengontrol, divalidasi, dan diakui statusnya.

Contoh nyata fenomena ini ada di media sosial seperti memamerkan tubuh di gym dengan caption motivasi yang berlebihan; memamerkan gestur “gentleman” tapi hanya saat direkam; atau memposting tindakan heroik yang sebenarnya diarahkan untuk citra diri. Selain di media sosial, untuk menunjukkan eksistensi diri mereka di kehidupan nyata, ada pria yang mendadak “gentleman” saat ada perempuan yang disukai atau saat sedang dinilai orang. Mereka juga minum matcha karena matcha merupakan salah satu minuman yang sering dibeli oleh perempuan untuk meningkatkan mood, bahkan pembelian matcha ini menjadi kebiasaan yang sering dilakukan oleh perempuan.

Tentu saja, hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor. Disamping adanya fenomena Validasi Media Sosial, pergeseran maskulinitas juga memainkan peran penting. Terjadi perubahan dari citra maskulinitas tradisional yang kaku menuju model pria yang lebih peka, emosional, dan berwawasan, yang dianggap menarik oleh wanita modern. Pada sisi lain terdapat Daya Tarik Estetika yang mengedepankan sisi lembut dan artistik, yang ditunjukkan melalui gaya berpakaian, preferensi musik, atau kebiasaan minum matcha dan menggunakan tas selempang, dibungkus dengan penampilan yang estetik dan enak dipandang.

Dapat disimpulkan bahwa Performative Male bukan hanya “bahasa gaul” yang digunakan untuk menggoda atau merendahkan laki-laki, tetapi ada penelitian sosial dan gender yang signifikan di baliknya. Tentu, sobat GP harus bersikap kritis dalam menyikapi fenomena ini, dan tidak sekadar ikut-ikutan saja. (Juned)

Foto : Elle India IG