Dolar Tembus Rp17.650, Harga Spare Part dan Oli Bengkel Ikut Naik

Ilustrasi bengkel motor/Foto : Dok. Shutterstock Ilustrasi bengkel motor/Foto : Dok. Shutterstock

Jakarta, GPriority.co.id – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak langsung pada sektor otomotif nasional.

Setelah kurs rupiah sempat menyentuh level Rp17.650 per dolar AS, harga berbagai suku cadang kendaraan di sejumlah bengkel mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.

Dilansir dari laporan sejumlah media nasional, kenaikan paling terasa terjadi pada oli mesin, ban, vanbelt, hingga komponen kecil seperti baut dan perlengkapan servis lainnya.

Pelaku usaha bengkel menyebut lonjakan harga dipicu tingginya ketergantungan industri otomotif terhadap barang impor.

Ketika dolar AS menguat, harga spare part otomatis ikut terkerek karena sebagian besar bahan baku dan produk jadi masih didatangkan dari luar negeri.

Kondisi ini membuat biaya operasional bengkel meningkat dan memaksa pelaku usaha menyesuaikan harga servis kendaraan.

Salah satu pemilik bengkel di Jakarta mengungkapkan bahwa harga oli mesin yang sebelumnya dijual sekitar Rp55 ribu kini naik menjadi Rp75 ribu per botol.

Kenaikan tersebut terjadi bertahap sejak nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Selain oli, harga ban dan vanbelt juga mengalami penyesuaian karena distributor menaikkan harga jual ke bengkel.

Bank Indonesia mencatat tekanan terhadap rupiah dipengaruhi penguatan dolar AS secara global akibat tingginya suku bunga acuan Amerika Serikat dan ketidakpastian ekonomi dunia.

Kondisi ini berdampak pada berbagai sektor yang masih bergantung pada impor, termasuk industri otomotif dan suku cadang kendaraan.

Data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga menunjukkan fluktuasi rupiah yang cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir.

Selain faktor kurs dolar, pelaku usaha menyebut hambatan distribusi impor dan naiknya harga bahan baku seperti plastik turut memperparah kenaikan harga spare part.

Beberapa distributor bahkan mulai membatasi stok karena biaya pengiriman dan impor meningkat. Situasi tersebut membuat harga komponen kendaraan semakin sulit ditekan.

Meski harga servis kendaraan ikut naik, para pemilik bengkel mengaku pelanggan tetap datang untuk melakukan perawatan rutin. Menurut mereka, hampir seluruh bengkel mengalami kondisi serupa sehingga konsumen tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti penyesuaian harga yang terjadi di pasar.