Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang, belum lama ini menyoroti ekspor batik menurun hingga 8,39 YoY pada kuartal II-2024.
Menurut Agus, salah satu faktor ekspor batik menurun dikarenakan banyaknya produk impor yang membanjiri pasar dalam negeri. Begitupun dengan batik.
Sejak tahun 2012 lalu, Indonesia dilaporkan sudah mengimpor kain batik dan produk batik dari China. Bahkan nilai impor batiknya fantastis, mencapai $30 juta (setara dengan Rp464,35 miliar).
Batik dari China ini memiliki keunggulan harga yang jauh lebih murah dibandingkan batik lokal. Hal ini yang kemudian membuat produk batik lokal terancam.
Kendati demikian, pada tahun 2019 lalu sebenernya keberadaan batik impor di pasaran perlahan mulai berkurang.
Pemerintah pun telah memperketat pengawasan impor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) yang bermotif menyerupai batik.
Namun, hingga kini batik impor masih beredar di pasaran.
September 2024 lalu, seorang pedagang di Thamrin City mengakui jika harga batik impor China bisa lebih murah hingga Rp20 ribu – Rp 30 ribu per helai.
“Sebagai contoh bahan katun model standar. Batik Pekalongan itu harganya Rp100 ribu/helai. Beda sama (batik) China yang Cuma Rp70 ribu. Kalau dipegang juga lebih halus (batik) China,” ujarnya seperti dikutip dari laman Instagram Big Alpha.
Sayangnya, para pedagang di pasar tidak tahu jika batik yang mereka jual adalah batik impor. Hanya beberapa pedagang saja yang mengetahui keberadaan batik impor.
Saat ini, menurut sebuah data, industri tekstil dalam negeri sedang mengalami penurunan. Hal ini karena turunnya permintaan ekspor dan permintaan dalam negeri.
Dari sisi ekspor, industri tekstil mengalami penurunan nilai ekspor sebesar 6,8 YoY.
Akibat penurunan tersebut, akhirnya banyak pabrik industri tekstil yang melakukan PHK terhadap karyawannya.
Dari Januari-Agustus 2024, jumlah karyawan PHK dari industri pengolahan seperti tekstil, garmen, dan alas kaki adalah sebanyak 22.356 orang.
Padahal, industri tekstil dan pakaian berkontribusi besar senilai 5,72% terhadap PDB non-migas.
Pada kuartal II-2024, kinerja ekspor industri TPT mencapai $1,77 miliar (Rp27,39 triliun).
Sementara itu, industri batik memberikan kontribusi sebesar $8,33 juta (Rp128,9 miliar) terhadap ekspor industri TPT pada periode yang sama.
Foto : Pesona Batik Sukabumi
