Fadli Zon Ungkap Tiga Makna Pemulangan Fosil Eugène Dubois

Menteri Kebudayaan Fadli Zon/Foto Fifi Abdurahman Menteri Kebudayaan Fadli Zon/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan tiga makna utama dari pemulangan puluhan ribu fosil bersejarah Koleksi Eugène Dubois dari Kerajaan Belanda ke Indonesia.

Makna pertama, menurut Fadli, adalah pemulihan memori kolektif bangsa. Setiap pecahan tulang purba dan artefak dalam koleksi tersebut merupakan saksi perjalanan panjang peradaban di Nusantara, yang usianya mencapai ratusan ribu hingga jutaan tahun.

“Peradaban kita ini adalah peradaban yang sangat tua. Sekali lagi, ratusan ribu tahun dan jutaan tahun. Jadi bukan sekadar bangsa yang baru lahir 80 tahun yang lalu atau ribuan tahun lalu, tapi sudah menjadi peradaban sejak puluhan ribu tahun yang lalu,” ucap Fadli Zon di Taklimat Media “Pengembalian Fosil Koleksi Eugene Dubois”, Kamis (2/10).

Fadli Zon menilai kepergian fosil-fosil bersejarah tanah air ke beberapa negara membuat puzzle sejarah Indonesia tidak lengkap. Kini, dengan kepulangan Koleksi Eugène Dubois, dari Kerajaan Belanda, yang dimulai tahun 2025 ini, akan menyatukan kembali serpihan sejarah yang hilang tersebut. 

“Kita mengembalikan memori itu ke tempat asalnya, ke dalam kesadaran kolektif kita sebagai bangsa. Bahwa kita ini adalah bangsa peradaban tua. Bukan bangsa kemarin sore, tapi bangsa peradaban tua,” tuturnya.

Makna kedua adalah pemulihan narasi evolusi manusia. Penemuan Java Man di Trinil pada 1891 oleh Eugène Dubois menempatkan Indonesia dalam posisi penting dalam peta evolusi manusia dunia. Namun, selama lebih dari seabad objek studi utama itu berada jauh dari tanah penemuannya.

“Jadi kehilangan konteksnya. Kini kita menegaskan kembali posisi sentral Indonesia dalam narasi besar itu dan kita reclaim, kita ambil kembali hak kita untuk menjadi tuan rumah bagi cerita kita sendiri. Evolusi manusia berdenyut kencang di tanah air kita,” imbuh Fadli Zon.

Makna ketiga, lanjut Fadli, adalah rekonsiliasi sejarah. Kepulangan koleksi ini menjadi langkah elegan untuk menutup luka kolonialisme, sekaligus mengakui bahwa pengambilan fosil di masa lalu dilakukan dalam konteks penindasan dan ketidakadilan.

“Dengan mengembalikannya, kita bersama-sama dengan Belanda tidak melupakan sejarah, tapi justru belajar darinya untuk membangun hubungan baru yang setara, saling menghormati, dan berorientasi ke masa depan. Jadi ini adalah rekonsiliasi yang bermartabat,” pungkasnya.

Pewarta : Fifi Abdurahman