HOI!: Cinta dan Kerinduan Terhadap Tanah Air


Sepulangnya dari negeri rantau, Moskwa, Rusia—tepatnya menjelang akhir tahun 2018, Iwan Jaconiah, teman dan juga sahabat seperjuangan ketika menjadi jurnalis di Jakarta memberikan saya (penulis) buku puisi—Tak lama setelah itu, kami beserta beberapa sahabat lainnya pun menutup akhir tahun 2020 dengan meluncurkan buku puisi tunggalnya yang ketiga, HOI! di Jakarta Selatan.

Buku setebal 154 halaman tersebut merangkup puisi pada rentang waktu 2015-2017, selama menjadi pelajar sekaligus perantau di negeri para sastrawan tersohor di dunia, seperti Alexander Pushkin, Leo Tolstoy, Fyodor Dostoyevsky, Nikolai Gogol, dan masih banyak lagi para sastrawan ternama dari Rusia yang cukup memengaruhi kesusastraan dunia.

Sudah barang tentu, sebagai pelajar sekaligus perantau, Iwan menyapa sekaligus bercengkrama dengan berbagai rupa, bentuk dan sifat manusia dari berbagai belahan dunia yang secara budaya, karakter, bahasa, spiritual berbeda dengannya. Perbedaan serta pengalaman di Eropa Timur itulah yang kemudian menjadi latar baginya dalam berkarya. Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana pancaindranya dipakai untuk memotret sekaligus merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang Indonesia yang sekolah/kuliah, bekerja di Moskwa.

Lebih dari itu, ia juga bercengkrama, memotret, merasakan dan merangkum apa yang dirasakan atawa diharapkan para orang-orang yang terlahir di Indonesia, namun tidak bisa hidup, menghabiskan hari tua bahkan dikuburkan di tanah air (kaum eksil) di Rusia. Hal ini kemudian sangat terasa dalam puisinya yang berjudul, “Kaliningrad”. Aku mencarimu diantara wajah sejarah//yang hampir lekang oleh makna//Sebab, orang-orang gegas mengejar arah//kemudian mengukirnya di kayu salib//yang tak berjarak dengan tanah,… Rasa serupa juga bisa disimak dalam puisinya yang berjudul, “Yang Terlupa dari Angkatannya”. Puisi ini secara gamblang ditujukannya pada seniman eksil yang bermukim di tanah bersalju.

Kemana nurani seni//jika nama dilupakan sejarah//Angin masih banyak berhembus dan angan berdebus//Arwah-arwah memanggil//dari kengerian kuburan, searah…//Logika sampingkan rasa//aku pungut dan simpat di lemari es. Hal serupa juga bisa dijumpai dalam puisinya yang berjudul, Yang Terbuang dan Yang Tak Pulang, Ilalang Tsar, Ideologi Ngorok, 1 Residen 2 Presiden, dan puisi-puisi lainnya yang dihadirkan dengan segenap mimpi, cinta, rindu juga emosi yang secara paralel semakin menumbuhkan kecintaannya terhadap tanah airnya, Indonesia.

Yang tidak kalah pentingnya, puisi-puisi ini juga mencoba merekam apa yang dirasakan sekaligus dirindukan dan diharapkan orang-orang yang lahir di Indonesia, namun tidak bisa bertumbuh, tinggal menetap atawa ber-KTP Indonesia karena persoalan politik. Tersebab persoalan politik itu, bahkan ketika maut menjemput, jasad tak bisa dikubur di tanah kelahirannya sendiri.

Semacam kerinduan yang menahun dan membatin serta mustahil bisa tergenapi. Coba tengok puisinya yang berjudul, HOI 1-7, Mata Air Ibu, Tanah Airku Jauh, dan masih banyak lagi puisi-puisi yang berusaha mengejawantahkan kebesaran cinta dan kerinduan Iwan maupun kaum eksil terhadap tanah air, Indonesia.*** Adma Bestari

Related posts