Jakarta, GPriority.co.id – Per Selasa (17/3), IHSG kembali menunjukkan pelemahan signifikan setelah beberapa hari terakhir berada di zona merah.
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia ini dipicu oleh kombinasi faktor global, sentimen domestik, hingga aksi jual investor menjelang periode libur panjang Idulfitri.
Dilansir dari laporan Bloomberg, dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, indeks saham Indonesia sempat menurun tajam. Pada perdagangan sebelumnya, IHSG tercatat melemah sekitar 1,6 persen ke level 7.022, dan menjadikannya salah satu indeks dengan performa terburuk di kawasan Asia.
Tekanan jual yang kuat, pada akhirnya membuat sebagian investor memilih strategi wait and see, sambil memantau perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter domestik.
Dilansir dari laporan ANTARA, ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab utama IHSG anjlok di bulan Maret ini.
Pertama, karena faktor ketegangan geopolitik global
Ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, meningkatkan ketidakpastian pasar global. Situasi ini memicu sikap risk-off dari investor global sehingga dana asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Kedua, tekanan pada nilai tukar rupiah
Dilansir dari Reuters, ketidakpastian global turut menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan mata uang domestik membuat investor asing lebih berhati-hati menempatkan dana di pasar saham Indonesia. Selain itu, inflasi yang meningkat di atas target bank sentral menambah kekhawatiran pelaku pasar.
Ketiga, lonjakan harga energi dunia
Kenaikan harga minyak dunia akibat gangguan pasokan global juga memberi tekanan pada pasar keuangan. Lonjakan harga energi meningkatkan potensi inflasi global yang kemudian memicu kekhawatiran terhadap kebijakan suku bunga yang lebih ketat.
Keempat, aksi profit taking investor
Selain faktor eksternal, aksi ambil untung (profit taking) dari investor setelah kenaikan saham sebelumnya turut mempercepat koreksi IHSG. Ketika banyak investor melepas saham secara bersamaan, tekanan jual di pasar menjadi semakin kuat.
Kelima, libur panjang dan likuiditas pasar
Menjelang periode libur panjang, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia biasanya menurun. Investor cenderung mengurangi risiko dengan menahan dana tunai, sehingga likuiditas pasar menjadi lebih tipis.
Dalam beberapa hari terakhir, IHSG bahkan tercatat sebagai salah satu indeks dengan penurunan paling tajam di antara pasar Asia. Ketika beberapa indeks regional hanya turun tipis, IHSG mengalami koreksi lebih dalam dibandingkan indeks lain di kawasan. Situasi ini membuat kapitalisasi pasar saham Indonesia menyusut signifikan dan meningkatkan volatilitas perdagangan.
Bagaimana nasib IHSG ke depannya?
Meski mengalami tekanan dalam jangka pendek, sejumlah analis masih melihat peluang pemulihan pasar saham Indonesia. Beberapa lembaga riset memperkirakan IHSG berpotensi kembali menguat seiring stabilnya kondisi global dan kebijakan moneter yang lebih longgar.
Data Tempo menyebut, dalam proyeksi jangka menengah, IHSG diperkirakan masih memiliki potensi menuju kisaran 9.700 pada tahun 2026 jika pertumbuhan ekonomi domestik tetap solid dan arus dana asing kembali masuk.
Namun dalam waktu dekat, pergerakan IHSG diperkirakan masih volatile karena dipengaruhi faktor global seperti konflik geopolitik, inflasi, serta kebijakan suku bunga bank sentral dunia.
