Jakarta, GPriority.co.id – Seorang dokter spesialis mengungkap pendekatan baru dalam menurunkan berat badan yang dinilai lebih efektif dan berkelanjutan tanpa harus menghitung kalori secara ketat.
Metode ini menitikberatkan pada pengelolaan rasa lapar, pola makan, serta kebiasaan sehari-hari dibanding sekadar membatasi asupan energi.
Dalam laporan NY Post, Dr. Jason Fung, seorang spesialis ginjal sekaligus penulis buku kesehatan, menjelaskan bahwa kegagalan banyak program diet selama ini disebabkan karena terlalu fokus pada angka kalori, bukan akar masalahnya, yaitu rasa lapar.
Menurutnya, memahami jenis-jenis rasa lapar menjadi kunci utama dalam menurunkan berat badan secara konsisten. Ia membagi rasa lapar menjadi tiga kategori utama, yaitu lapar fisiologis (homeostatic), lapar karena kesenangan (hedonic), dan lapar yang dipicu lingkungan atau kebiasaan (conditioned).
Fung menegaskan bahwa makanan ultra-proses sering kali memicu ketiga jenis lapar tersebut sekaligus, sehingga membuat seseorang cenderung makan berlebihan tanpa merasa kenyang dalam jangka panjang.
Ia pun menyampaikan tiga aturan utama atau “golden rules” untuk menurunkan berat badan tanpa perlu menghitung kalori secara rinci.
Pertama, menghindari makanan ultra-proses. Menurut Fung, jenis makanan ini cenderung rendah rasa kenyang dan justru merangsang nafsu makan berlebih. Dengan beralih ke makanan utuh dan alami, tubuh akan lebih mudah mengontrol rasa lapar secara alami.
Kedua, menerapkan pola puasa atau pengaturan waktu makan. Metode ini dikenal sebagai intermittent fasting, di mana seseorang memberi jeda waktu bagi tubuh untuk mencerna makanan dan membakar lemak secara optimal.
Ketiga, mengubah lingkungan dan kebiasaan makan. Hal ini termasuk mengurangi paparan terhadap pemicu makan berlebih, seperti camilan tidak sehat di rumah atau kebiasaan makan sambil menonton.
“Fokusnya bukan pada menghitung kalori, tetapi mengelola rasa lapar dan kebiasaan makan,” jelas Fung.
Pendekatan ini dinilai lebih realistis karena tidak membebani individu dengan perhitungan yang rumit, sekaligus membantu membangun pola hidup sehat jangka panjang.
Dilansir dari laporan Wikipedia, secara ilmiah, pengelolaan berat badan memang tidak sesederhana persamaan kalori masuk dan keluar. Faktor seperti hormon, metabolisme, hingga perilaku juga berperan besar dalam menentukan keberhasilan diet.
Selain itu, kebiasaan makan yang buruk, stres, dan lingkungan juga dapat memicu pola makan berlebih yang sulit dikendalikan jika hanya mengandalkan pembatasan kalori.
Pendekatan yang menitikberatkan pada kualitas makanan dan pengendalian rasa lapar ini juga sejalan dengan tren diet modern yang mulai meninggalkan metode lama berbasis hitung kalori. Banyak ahli kini lebih menekankan pentingnya makanan utuh, keseimbangan nutrisi, serta konsistensi pola makan dibanding sekadar angka.
Konsep Hitung Kalori Cara Diet yang Salah?
Namun demikian, Fung tidak sepenuhnya menolak konsep kalori. Ia menilai bahwa kalori tetap penting, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan penurunan berat badan.
Metode ini juga memberikan fleksibilitas bagi individu untuk menjalani diet tanpa tekanan berlebihan. Dengan memahami sinyal tubuh dan menghindari pemicu makan berlebih, seseorang dapat mencapai berat badan ideal secara lebih alami dan berkelanjutan.
Pendekatan ini menjadi alternatif menarik bagi masyarakat yang sering gagal dalam program diet konvensional. Dengan fokus pada perubahan kebiasaan dan pengelolaan rasa lapar, penurunan berat badan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan bagian dari gaya hidup sehat.
Ke depan, pendekatan berbasis perilaku dan pemahaman biologis ini diperkirakan akan semakin populer, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan jangka panjang dibanding hasil instan.
