Ini Kata Kemlu RI Soal PM Wanita Pertama di Jepang, Sanae Takaichi

Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI (Abdul Kadir Jailani) buka suara soal sosok konservatif PM Jepang yang baru terpilih, Sanae Takaichi/Foto : Dok. GPriority & The Japan Times Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI (Abdul Kadir Jailani) buka suara soal sosok konservatif PM Jepang yang baru terpilih, Sanae Takaichi/Foto : Dok. GPriority & The Japan Times

Jakarta, GPriority.co.id – Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu RI), Abdul Kadir Jailani, menyoroti terpilihnya sosok Sanae Takaichi sebagai Perdana Menteri (PM) wanita pertama di Jepang belum lama ini.

Sanae Takaichi sendiri dikenal sebagai sosok yang kontroversial karena pandangan konservatifnya. Diantaranya, ia menolak pernikahan sesama jenis serta mengizinkan penggunaan nama saat masih gadis bagi perempuan yang sudah menikah. Dirinya juga kerap menyerukan etos kerja yang ekstrem.

“Masyarakat Jepang seharusnya bekerja keras. Kerja, kerja, kerja!,” sebutnya dalam salah satu wawancara bersama media Jepang.

Menanggapi terpilihnya Takaichi, Kadir lebih memilih untuk berfokus pada hubungan positif antara Indonesia dan Jepang. Terlebih hingga saat ini hubungan kedua negara tersebut sudah terjalin selama beberapa dekade.

“Saya rasa kita mengetahui bahwa hubungan Indonesia dan Jepang secara tradisional sudah terjalin sekian dekade, dan ini menunjukkan keteguhan dan kekuatan hubungan bilaterarl kedua negara,” ujarnya pada saat agenda press briefing KTT ASEAN dan KTT APEC pada Rabu (23/10) kemarin.

“Bahkan saya mengatakan hubungan kita itu secara tradisional sudah cukup mapan. Saya mengerti banyak pihak mengatakan bahwa pemerintahan (Jepang) sekarang lebih berhaluan konservatif. Namun yang pasti, Indonesia melihat bahwa pemerintah baru ini akan menawarkan kesempatan buat kita untuk terus mengembangkan hubungan dan kerja sama kedua negara,” tambahnya.

Kadir menyebut, hingga saat ini baik Indonesia maupun Jepang sama-sama berkeinginan untuk memajukan pertumbuhan ekonomi serta menghadapi berbagai tantangan bersama.

“Saya rasa tidak ada alasan untuk kedua negara tidak meningkatkan kerja sama. Mengenai ada perbedaan akibat masalah haluan dari pemerintahan Jepang yang baru, saya rasa itu mungkin perubahan prioritas.

Lebih lanjut Kadir meyakini, tidak ada shifting of policy atau perubahan kebijakan setelah terpilihnya Takaichi.

“Saya tidak melihat itu. Justru saya melihat bahwa yang terjadi adalah bagaimana kedua negara dan pemerintahan Indonesia paling tidak melihat terpilihnya pemerintahan baru ini merupakan sebuah kesempatan baru buat kita untuk meningkatkan hubungan yang lebih baik,” pungkasnya.

Perlu diketahui, Takaichi sendiri memiliki latar belakang unik. Sebelum masuk ke dunia politik, dirinya merupakan seorang drummer dari band beraliran heavy metal serta pembawa acara TV. Ia juga dikenal sebagai politisi sekaligus murid ideologis dari Shinzo Abe. Dirinya juga mendukung kebijakan Abenomics, gabungan antara kebijakan fiskal, moneter, dan struktural.