Jakarta, GPriority.co.id – Anjing merupakan salah satu hewan peliharaan yang banyak dimiliki orang diseluruh dunia. Hewan yang terkenal pintar ini bahkan diklaim sebagai sahabat manusia yang paling setia.
Namun di wilayah Yulin, bagian negara China, anjing menjadi santapan favorit bagi masyarakat sekitar mereka. Bahkan masyarakat Yulin mempunyai tradisi Festival Daging Anjing dan Leci yang diadakan setiap tahun pada musim panas disana.
Festival Daging Anjing dan Leci diadakan selama sepuluh hari. Biasanya terdapat 10.000-15.000 ekor anjing yang disantap oleh warga Yulin dalam festival tersebut.
Meski sudah ditentang oleh para aktivis kesejahteraan hewan, masyarakat Yulin tetap bersikeras melaksanakan Festival Daging Anjing dan Leci ini.
“Lebih kejam makan daging sapi. Sapi itu membantu membajak ladang (sawah). Banyak orang beternak anjing untuk memakmurkan negara China,” ujar seorang warga Yulin dalam sebuah interview pada saluran YouTube VICE Indonesia.
Lalu bagaimana rasa dan kandungan daging anjing? Apakah daging anjing ternyata mengandung sesuatu yang berbahaya?
“Dagingnya berwarna merah, cukup berlemak, dan sangat harum. Daging anjing itu rasanya seperti gabungan dari daging sapi dan daging kambing. Jika belum pernah mencoba, pasti akan menyukainya,” ujar seseorang penikmat daging anjing dan dikutip dari laman situs mirror.
Untuk kandungannya sendiri, daging anjing ternyata rawan bakteri dan parasit. Diantaranya seperti parasit Trichinellosis, yang bisa ditemukan pada daging mentah atau yang kurang matang. Jika dikonsumsi dapat menyebabkan peradangan pembuluh darah pada manusia.
Daging anjing juga riskan terhadap rabies. Ini terjadi jika daging anjing yang dipotong adalah anjing yang terinfeksi rabies dan tidak divaksin.
“Makan daging anjing juga meningkatkan risiko infeksi parasit, seperti E.Coli 107 dan salmonella. Belum lagi masalah antraks, hepatitis dan leptospirosis. Itu semua bisa menyebar melalui daging anjing ke manusia,” ujar dr. Theresia Rina Yunita, dikutip dari laman klikdokter.
Berdasarkan surat edaran No. 9874/SE/pk.420/F/09/2018 oleh Kementrian Pertanian, daging anjing juga tidak termasuk dalam kategori pangan, sehingga penjualannya dibatasi.
Perdagangan daging anjing juga sudah dilarang oleh beberapa pemerintah-pemerintah daerah seperti lewat aturan Instruksi Kepala DKPKP DKI Nomor 26 Tahun 2018 di Provinsi DKI Jakarta.
Mendukung kebijakan pemerintah soal pelarangan perdangangan daging anjing, beberapa aktivis penyelamat hewan di Indonesia juga sudah banyak melakukan aksi untuk angkat bicara. Salah satunya Doni Herdaru, Ketua Animal Defenders Indonesia.
“Semua gimmick tentang khasiat daging anjing adalah bohong dan palsu. Tidak pernah ada pembuktian empirik. Klaim-klaim oportunistik yang selalu hadir guna melanggengkan penjualan semata. Ingat saat pandemi Covid melanda? Klaim para penjual dan pemakan daging anjing, bahwa daging anjing adalah obat covid,” ujarnya.
“Kalo memang benar, bubarkan saja WHO, kalah hebat sama para sindikat pencuri dan penjual daging anjing.
Waspada akhir tahun yang biasanya dijadikan ajang mereka, para pencuri dan pemakan anjing, berpesta. Kita persempit ruang geraknya,” tambah Doni dalam postingan Instagramnya pada 15 Oktober 2023 lalu.
Foto : Freepik/svetikova
