Kasus DBD di Kendari Meningkat, Sekda Sultra Minta Pimpinan RS Siapkan Faskes dengan Baik

Jakarta, GPriority.co.id – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Drs. H. Asrun Lio, M. Hum., Ph.D, mengingatkan kepada para pemimpin rumah sakit untuk menyiapkan fasilitas Kesehatan guna menangani peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).

Menyusul kasus DBD di Kota Kendari, Sultra mengalami peningkatan yang signifikan dibanding bulan Desember 2023.

“Di pemberitaan kita membaca dan mendengarkan bahwa DBD yang berada di Kota Kendari pasiennya meningkat, sehingga saya harapkan para Direktur Rumah Sakit untuk menangani dengan baik, serta menyiapkan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan terkait dengan penanganan DBD ini,” ujar Asrun saat pimpin apel gabungan di Halaman Kantor Gubernur Sultra, Senin (5/2).

Selain itu, Sekda Asrun Lio juga mengingatkan kepada Dinas Kesehatan Sultra untuk terus melakukan penyemprotan fogging, yang terdapat titik-titik yang rawan terhadap penyebaran penyakit DBD.

Lebih lanjut, Sekda Asrun Lio mengarahkan jika terjadi kelebihan penanganan yang ada di RS bisa menggunakan Rumah Sakit Jantung yang ada di Sultra.

“Bisa nanti di fasilitasi untuk penanganan sementara disana, sambil menyiapkan dokter-dokter atau perawat-perawat yang menangani. Nanti akan berkoordinasi dengan para Direktur dan Dinas Kesehatan,” tuturnya.

Dikutip sultrademo.co, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kendari, Ellfi melakukan pemetaan terhadap kasus DBD di Kota Kendari, dan hasilnya menunjukkan bahwa ada tiga kecamatan dengan jumlah kasus tertinggi. Kecamatan Baruga menduduki peringkat pertama, diikuti oleh Kecamatan Poasia, dan selanjutnya Kecamatan Wuawua.

Dikatakannya, ketika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, kasus DBD di Kota Kendari juga menunjukkan angka yang lebih tinggi.

Adapun Elfi mengatakan Dinas Kesehatan Kota Kendari telah mengirim surat kepada seluruh fasilitas kesehatan di wilayah tersebut yang meminta agar setiap pasien yang diduga terjangkit DBD dan mengalami gejala batuk segera menjalani Rapid Tes. Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan yang lebih intensif dan akurat terhadap potensi penyebaran virus.

“Dengan adanya peningkatan kasus ini, kami berkomitmen untuk meningkatkan pengawasan dan respons cepat. Kami mengajukan Rapid Tes untuk pasien DBD yang juga mengalami batuk, sebagai langkah pencegahan yang lebih proaktif,” kata Elfi.

Foto: Istimewa