KemenkoPMK: Ruang Kelas Indonesia Belum Latih Berpikir Kritis, Siswa Masih Dipaksa Menghafal

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Ojat Darojat di Kemenko PMK/Foto Fifi Abdurahman Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Ojat Darojat di Kemenko PMK/Foto Fifi Abdurahman

Jakarta, GPriority.co.id – Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Ojat Darojat, mengungkapkan adanya persoalan mendasar dalam sistem pendidikan Indonesia yang berdampak pada rendahnya daya saing inovasi.

Kesimpulan itu didapat Ojat usai bertemu dengan Director for Education and Skills at the OECD (Organization for Economic Cooperation and Development), Andreas Schleicher, dalam kunjungannya ke Indonesia.

Menurut Ojat, Andreas Schleicher menilai sistem pembelajaran di Indonesia masih didominasi oleh budaya menghafal (rote learning) yang telah mengakar kuat dalam proses belajar-mengajar di ruang kelas.

“Yang terjadi di ruang-ruang kelas adalah producing knowledge (menghasilkan pengetahuan), bukan applying knowledge (menerapkan pengetahuan). Jadi guru dan anak ketika mereka hadir di ruang-ruang kelas, dibebani oleh kurikulum yang sangat banyak,” kata Ojat dalam sambutannya di acara Human Development Synergy Forum “Brain Gain For Indonesia Emas 2045, di Kemenko PMK, Kamis (18/12).

Ia menjelaskan, metode pembelajaran satu arah membuat siswa hanya mampu mengingat materi tanpa memahami makna dan penerapannya dalam kehidupan nyata. Kondisi ini melahirkan apa yang disebut sebagai inert knowledge, yakni pengetahuan yang tersimpan di kepala siswa tetapi tidak dapat digunakan secara fungsional.

“Anak dipaksa untuk menghafal tapi dia tidak paham untuk apa dalam konteks hidupannya. Itulah metode pengajaran rote learning dan kurang memberikan kesempatan kepada anak untuk membangun critical thinkingnya. Itu yang terjadi sampai sekarang. Makanya kenapa daya saing inovasi kita sangat rendah? Karena itu situasinya,” jelasnya.

Ojat mencontohkan pembelajaran matematika seperti sinus dan kosinus yang diajarkan sejak sekolah menengah, namun sering kali tanpa penjelasan konteks kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kondisi ini sejalan dengan konsep banking concept in education yang dikemukakan tokoh pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed. Dalam konsep tersebut, siswa diposisikan sebagai “wadah kosong” yang hanya diisi pengetahuan oleh guru tanpa dialog kritis.

“Jadi kenapa kita gagal? Bukan hanya ekosistemnya, tetapi dengan budaya, dengan kultur yang terjadi di ruang-ruang kelas,” pungkas Ojat.