Benarkah Membesarkan Anak Perempuan 2 Kali Lebih Stres? Simak Temuan Studi Ini

Sebuah penelitian dari University of California, Berkeley, di tahun 2025 menjadi perhatian usai menyebut membesarkan anak perempuan menyebabkan tingkat stres ibu 2 kali lebih tinggi dibanding ketika membesarkan anak laki-laki/Foto : Ilustrasi Dok. Istimewa Sebuah penelitian dari University of California, Berkeley, di tahun 2025 menjadi perhatian usai menyebut membesarkan anak perempuan menyebabkan tingkat stres ibu 2 kali lebih tinggi dibanding ketika membesarkan anak laki-laki/Foto : Ilustrasi Dok. Istimewa

Jakarta, GPriority.co.id – Membesarkan anak merupakan proses yang penuh tantangan, tetapi sebuah penelitian yang dikaitkan dengan University of California, Berkeley menjadi perhatian setelah pemberitaan pada 2025 menyebut ibu yang membesarkan anak perempuan dapat mengalami tingkat stres yang lebih tinggi dibanding ibu yang membesarkan anak laki-laki.

Laporan tersebut menyebut penelitian mengamati kortisol, yaitu hormon yang berkaitan dengan respons tubuh terhadap stres. Hasil yang diberitakan menunjukkan kadar kortisol pada ibu yang merawat anak perempuan lebih tinggi, sehingga muncul klaim bahwa membesarkan anak perempuan bisa terasa hingga dua kali lebih menekan dibanding membesarkan anak laki-laki. Namun, angka tersebut perlu dibaca dengan hati-hati karena tidak berarti anak perempuan secara umum lebih sulit diasuh.

Pemberitaan mengenai studi tersebut juga mengaitkan perbedaan itu dengan hubungan emosional antara ibu dan anak perempuan. Interaksi yang lebih intens secara emosional dapat membuat orang tua memberikan perhatian lebih besar terhadap perasaan, hubungan pertemanan, dan berbagai persoalan sosial yang dihadapi anak.

Temuan tersebut sejalan dengan sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa hubungan orang tua dan anak dapat memengaruhi kondisi psikologis kedua pihak. Studi yang membahas stres sehari-hari pada anak dan orang tua menemukan bahwa ketika anak mengalami tekanan, orang tua juga dapat mengalami peningkatan emosi negatif, keluhan fisik, serta perubahan kadar kortisol.

Namun, stres pengasuhan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan jenis kelamin anak. Temperamen, usia, kondisi keluarga, lingkungan sosial, kondisi ekonomi, serta kualitas hubungan orang tua-anak turut menentukan pengalaman setiap keluarga.

Dalam artikel yang diterbitkan UC Berkeley pada 2025, peneliti dan dokter anak Larissa Hallal Ribas menekankan pentingnya kesehatan mental orang tua bagi kesejahteraan anak.

“Menjaga kesehatan mental orang tua sangat penting untuk melindungi kesehatan mental anak-anak,” ujarnya.

Komunikasi Jadi Kunci

Karena itu, orang tua tidak perlu memandang anak perempuan sebagai sumber stres yang lebih besar. Tantangan pengasuhan justru dapat menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi yang terbuka.

Orang tua dapat membantu anak dengan menyediakan ruang untuk bercerita tanpa langsung menghakimi, mengenali perubahan perilaku, menetapkan batasan yang konsisten, serta memberi waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat.

Pada akhirnya, baik anak perempuan maupun laki-laki membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan dukungan emosional. Penelitian tentang stres pengasuhan dapat menjadi pengingat bahwa kesehatan mental orang tua juga merupakan bagian penting dari pola asuh yang sehat.