KemenPPPA-ECPAT Gaungkan Cegah Eksploitasi Anak di Tempat Wisata

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bersama dengan ECPAT (Ending The Sexual Exploitation of Children) Indonesia bekerjasama membangun sistem pencegahan eksploitasi seksual anak di daerah wisata berbasis Desa dan Komunitas.

Perencana Muda pada Asdep Perlindungan Khusus Anak dari Kekerasan KemenPPPA, Fitra Andika Sugiyono mengatakan langkah awal melindungi anak di destinasi wisata dari kekerasan dan eksploitasi adalah dengan meningkatkan kesadaran dari semua pihak.

Hal tersebut Fitra utarakan saat webinar “Menata Pariwisata Berkelanjutan Ramah Anak”, Jumat (22/10/21).

“Dengan menyebarkan kesadaran itu, praktik-praktik eksploitasi anak yang selama ini dianggap lazim dapat dicegah dan dihentikan. Kesadaran dan kolaborasi serta sinergi bersama sangat penting,” katanya.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan wisata ramah anak mengedepankan keharmonisan nilai kultural dan tradisi di dalam kehidupan masyarakat dengan aktivitas kepariwisataan. Memliki sistem dan mekanisme untuk melindungi anak-anak yang ada di destinasi wisata terbebas dari segala bentuk eksploitasi.

Berdasarkan hasil penelitian dan asesmen oleh ECPAT Indonesia bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2016-2017 di 10 destinasi wisata, ditemukan fakta praktik kekerasan dan eksploitasi seksual oleh wisatawan terhadap anak-anak.

Destinasi wisata yang diteliti adalah pulau Seribu di DKI Jakarta, Karang Asem di Bali, Gunung Kidul di Yogyakarta, Garut di Jawa Barat, Bukit Tinggi di Sumatera Barat, Toba Samosir dan Teluk Dalam di Sumatera Utara.

Berdasarkan hasil penelitian ECPAT Indonesia pada 2015, kasus kekerasan dan eksploitasi seksual anak yang dilakukan wisatawan juga terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Kefamehahu Nusa Tenggara Timur dan Jakarta Barat.

Terkait hal trsebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan ECPAT Indonesia sudah melakukan kegiatan pelatihan Pembentukan Wisata Pedesaan Ramah Anak Bebas dari Kekerasan dan Eksploitasi di berbagai tempat, seperti kabupaten Toba, Magelang, Belitung, Wakatobi hingga Manggarai Barat. Pihaknya juga sudah melakukan pelatihan pembentukan wisata pedesaan ramah anak bebas dari kekerasan dan eksploitasi di desa Kuta Mandalika dan desa Derawan.

Desa wisata bebas kekerasan dan eksploitasi dibentuk demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat, meningkatkan etika, disiplin dan tanggung jawab pemangku kepentingan tentang pentingnya perlindungan anak, meningkatkan inisiatif pemerintah desa dalam membuat kebijakan perlindungan anak dan pemenuhan hak anak pada wilayah desa, juga melindungi serta mencegah potensi kekerasan dan eksploitasi seksual anak di wisata perdesaan.

Langkah-langkah pencegahan oleh usaha pariwisata meliputi membuat dan menyebarkan informasi anti eksploitasi seksual anak, memberikan pelatihan kepada karwayan mengenai pencegahan eksploitasi anak, melindungi karyawan yang memberikan laporan terkait hal tersebut hingga memasukkan telepon pengaduan yang ada di kepolisian untuk kampanye pencegahan eksploitasi seksual anak. (Dw.foto.dok. Ecpat)

Related posts