Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat proses revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi sebagai bagian dari penguatan infrastruktur perdagangan rakyat sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan. Proyek ini menjadi implementasi nyata visi Asta Cita melalui Strategi PU 608, dengan fokus menghadirkan pasar yang modern, bersih, dan nyaman bagi masyarakat.
Pasar yang dibangun sejak 1981 ini terletak di jantung Kota Banyuwangi, tepatnya di Jalan Satsuit Tubun. Keberadaannya sangat vital sebagai pusat distribusi bahan pokok serta perdagangan hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan yang menghubungkan perekonomian lokal dengan perdagangan antarwilayah.
“Pasar rakyat harus menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Kami memiliki komitmen kuat untuk memastikan fungsinya maksimal dengan desain yang tertata dan ramah lingkungan,” ujar Menteri PU, Dody Hanggodo, dalam keterangan resmi, Senin (4/8).
Proyek revitalisasi ini mencakup lahan seluas 10.600 m² dengan total bangunan utama seluas 11.140 m². Pasar terdiri dari dua gedung setinggi dua lantai, menampung total 777 unit kios/los yang terdiri dari 194 kios dan 583 los. Lantai 1 akan difungsikan sebagai pasar basah untuk pedagang ikan, daging, dan sayur, sementara lantai 2 akan diisi oleh zona kering seperti kios pakaian, kelontong, serta pusat kuliner dan UMKM.
Dirancang sebagai Bangunan Gedung Hijau (BGH), pasar ini mengedepankan efisiensi energi, sirkulasi udara alami, serta aksesibilitas untuk penyandang disabilitas. Area parkir seluas 4.733 m² disediakan untuk menampung hingga 336 kendaraan, dilengkapi tangga darurat, pedestrian ramah difabel, dan lansekap yang tertata apik.
Pembangunan pasar dibiayai melalui APBN 2024–2025 dengan anggaran sebesar Rp152 miliar. Proyek ini dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT Lince Romauli Raya sejak Oktober 2024 dan ditargetkan rampung pada akhir 2025.
Revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi tak hanya mengedepankan fungsi ekonomi, tetapi juga mengusung nilai sejarah dan pariwisata. Terletak di kawasan heritage Alun-Alun Blambangan, desain pasar memadukan arsitektur khas Osing dengan langgam kolonial Belanda, menciptakan identitas visual yang kuat dan otentik.
Fasad depan pasar dirancang sebagai area retail dan hawker food yang dilengkapi pedestrian selebar 5 meter, menciptakan suasana wisata kuliner jalan kaki. Penataan kawasan juga terintegrasi dengan RTH Alun-Alun Blambangan dan Alun-Alun Sri Tanjung, membentuk koridor hijau sepanjang 2 km sebagai ruang publik yang teduh dan nyaman.
Dengan konsep ini, Pasar Induk Banyuwangi diharapkan menjadi ikon wisata belanja baru yang mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, pelestarian budaya, serta kegiatan seni seperti Banyuwangi Ethno Carnival.
