Amerika Serikat dibawah Presiden Donald Trump masih terus membela genosida yang dilakukan Israel. Disisi lain negara-negara Eropa mulai mengakui berdirinya negara Palestina sebagai solusi dua negara untuk mengakhiri konflik dengan Israel.
Setelah Prancis, Inggris dan Kanada, Portugal serta Malta pun akan mengakui Palestina sebagai sebuah negara. Sebelumnya negara-negara Eropa seperti Spanyol, Irlandia, Norwegia dan Slovenia menyatakan dukungan berdirinya negara Palestina terlebih dahulu.
Eropa, si benua biru, selama ini dikenal sebagai pendukung utama negeri Zionis Israel. Namun sejak genosida yang dilakukan Israel memuncak bahkan dengan sengaja membuat kelaparan sistematis warga Palestina membuat pergeseran dukungan itu nyata.
Slovenia misalnya yang notabene anggota NATO malah mengambil langkah lebih maju dibandingkan negara -negara Eropa lainnya. Slovenia telah menghentikan ekspor alutsistanya ke negeri Zionis tersebut akhir Juli lalu. Hal yang sama juga dilakukan oleh Serbia sebelumnya, walau negeri pecahan Yugoslavia itu bukan anggota NATO.
Perubahan sikap Eropa kepada Zionis Israel itu bukan tanpa sebab mengingat pembantaian dengan sengaja menggunakan alutsista Israel sudah dilakukan hampir setahun ini tanpa henti. Saat ini Israel malah menciptakan kelaparan sistematis untuk menghabisi masyarakat Palestina.
Untungnya dalih maupun propaganda Zionis yang diterbitkannya sudah tidak mendapatkan tempat dan kepercayaan lagi di dunia. Zionis boleh saja memiliki jaringan media mainstream seperti BBC, CNN, FOX dan lainnya yang bertindak layaknya humas mereka. Namun saluran komunikasi kini sudah banyak beredar. Masyarakat dunia mendapatkan kebenaran justru melalui dari laman-laman media sosial.
Laman media sosial pun menggantikan peran media sebagai alat penekan, kontrol dan pengawas. Disisi lain banyak influencer dan pesohor dunia menyuarakan keprihatinannya atas apa yang terjadi di Palestina belakangan ini. Inilah yang merubah peta dukungan dunia. Dari dukung Israel kini berbalik mendukung Palestina. Dunia sudah mengetahui betapa busuknya Zionis yang mendirikan negara dengan mencuri, mengusir dan membunuh warga Palestina.
Disaat Eropa dan dunia menyadari kesalahannya membela Israel, Amerika Serikat dibawah Trump kini malah bimbang meski di dalam negerinya tekanan untuk memberikan sanksi kepada Israel juga membesar. Trump dengan keras kepalanya masih mempertahankan pembelaannya kepada Zionis.
Apa yang dilaporkan Financial Times menjadi bukti jika publik Amerika juga sangat muak dengan pemerintahan Zionis. Financial Times pernah mengungkap jika Trump sendiri memperingatkan seorang donor Yahudi terkemuka tentang meningkatnya sentimen anti-Israel dalam gerakan MAGA (Make America Great Again) yang dipimpinnya.
Menurut seorang pakar Timur Tengah yang tidak disebutkan namanya yang memiliki hubungan dengan lingkaran Trump, dalam percakapan pribadi, Trump diduga mengatakan kepada donor tersebut, “Rakyat saya mulai membenci Israel.”
Pakar tersebut, yang dikutip dalam laporan tersebut, mencatat bahwa beberapa orang di lingkaran Trump mengamati pergeseran yang meresahkan dalam retorika sayap kanan. “Ada orang-orang di Gedung Putih yang mengamati perkembangan narasi ini di sayap kanan, di dunia MAGA, yang sangat anti-Israel, sangat anti-Yahudi,” ujar sumber itu.
Walau tahu akan kondisi tersebut sikap kepala batu Trump terus dipertahankan saat negara-negara Eropa tengah mengakui berdirinya negara Palestina. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan, Trump tidak suka dan tidak setuju atas rencana beberapa negara, termasuk Inggris dan Prancis, yang hendak mengakui negara Palestina.
Kepada Kanada yang belakangan ikut akan mengakui Palestina, Trump malah memperingatkan Kanada jika mengakui Palestina dapat “mempersulit kesepakatan perdagangan apa pun dengan AS,” bahkan mengisyaratkan tarif baru.
Sikap Trump dan Amerika yang demikian tampaknya justru akan semakin ditinggalkan banyak negara. Amerika seperti tak dianggap akan isu Genosida di Palestina. Paman Sam seperti diisolasi oleh dunia.
Terpenting dari semua itu, jangan berhenti untuk membicarakan Palestina mengingat apa yang dilakukan Zionis adalah kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia moderen dimana seharusnya nilai-nilai kemanusiaan harus dijunjung sebagai hal utama.
Penulis : Aulia Rahmah, Mahasiswi Domisili di Padang
Foto : Istimewa
