Kolaborasi Kemensos dan Kemendukbangga Kuatkan Layanan Mental Siswa Sekolah Rakyat

Jakarta, GPriority.co.id – Kementerian Sosial (Kemensos) bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menyiapkan kerja sama untuk menghadirkan layanan penguatan mental bagi siswa Sekolah Rakyat. Kolaborasi ini dirancang karena para murid Sekolah Rakyat berasal dari latar belakang yang beragam dan membutuhkan pendampingan yang lebih menyeluruh.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengatakan penguatan mental murid menjadi kebutuhan penting yang harus ditangani bersama lintas kementerian. Hal itu disampaikannya usai menerima audiensi Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Waka BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat, Senin (27/7).

“Karena memang latar belakang siswa ini istimewa ya. Kemudian ada aspek-aspek lain, seperti aspek-aspek problem keremajaan itu terjadi dan ini yang kita membutuhkan sinergi antara Kemensos dengan BKKBN,” ujar Agus Jabo.

Ia menegaskan kerja sama tersebut akan dimatangkan melalui penyusunan konsep dan teknis pelaksanaan, uji coba di beberapa Sekolah Rakyat, hingga penandatanganan nota kesepahaman. Menurut dia, langkah itu diharapkan dapat segera dioperasionalkan pada tahun ajaran ini.

“Supaya kemudian di tahun ajaran ini kita langsung bisa operasional, ya kan, lebih cepat lebih baik. Ini anak-anak kita yang harus kita urus bersama-sama, tidak hanya Kemensos,” katanya.

Sementara itu, Wamendukbangga/Waka BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menjelaskan pihaknya memiliki program yang berkaitan dengan siklus hidup, termasuk anak-anak dan remaja. Menurutnya, keluarga sebagai unit terkecil menjadi titik awal penguatan kualitas sumber daya manusia, sehingga kolaborasi dengan Sekolah Rakyat dinilai sangat relevan.

Ia menawarkan program Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) sebagai salah satu bentuk dukungan. Program ini akan menyediakan konselor sebaya yang dapat membantu para murid menghadapi persoalan masing-masing, terutama karena remaja cenderung lebih nyaman berbicara dengan teman sebaya.

“Karena kalau kita berbicara anak-anak remaja, biasanya mereka lebih cenderung ingin berbicara dengan teman sebaya. Oleh karena itu, PIK-R ini menyediakan konselor sebaya supaya bisa dideteksi sejak dini,” ujar Isyana.

Ia menambahkan, jika ada siswa yang menunjukkan gejala dan memerlukan penanganan lebih lanjut, mereka dapat dirujuk ke pihak yang lebih kompeten dalam menangani kesehatan mental. Selain itu, Organisasi Generasi Berencana (Genre) juga berpotensi menjadi wadah pendampingan bagi siswa Sekolah Rakyat bersama psikolog maupun tenaga profesional.

Isyana berharap kolaborasi ini dapat berkembang seiring penguatan PIK-R dan program Sekolah Siaga Kependudukan, sehingga mendukung pembentukan generasi Indonesia Emas 2045. Kerja sama lintas kementerian ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga kesehatan mental dan ketahanan remaja.

Foto : Kemensos