Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meninjau lokasi kebakaran di Kantor Terra Drone, Jalan Letjen Suprapto Nomor 2-3, Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Rabu (10/12).
Berdasarkan pantauan GPriority, Tito tiba sekitar pukul 11.20 WIB dan langsung melihat kondisi gedung pascakebakaran.
Dalam keterangan persnya, Tito mengatakan bahwa ia mendapat arahan dari Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pencegahan kebakaran di seluruh gedung di Indonesia. Langkah ini dilakukan agar insiden serupa tidak kembali terjadi.
“Saya datang ke sini untuk melihat lokasi kebakaran yang kemarin jadi, saya juga berdiskusi dengan bapak Mensesneg yang intinya saya tidak menginginkan kejadian ini terulang kembali,” kata Tito kepada wartawan.
“Kita semua berduka karena ada 22 orang yang wafat karena peristiwa kebakaran di gedung ini. Kemudian saya diperintahkan untuk mengevaluasi prosedur atau tata cara untuk mencegah kebakaran atas gedung-gedung itu seperti apa dan kemudian agar tidak terulang kembali kira-kira apa yang harus dilakukan, ada grey area gak dalam pengaturan masalah pencegahan kebakaran gedung misalnya,” tambahnya.
Tito juga menjelaskan hasil diskusinya dengan Wali Kota Jakarta Pusat, Kapolres, dan Kepala Dinas Damkar DKI Jakarta. Ia menekankan pentingnya pengujian kelayakan sistem pencegahan kebakaran dalam setiap pembangunan gedung, terutama di Jakarta yang didominasi bangunan bertingkat tinggi dengan risiko lebih besar.
Ia menyoroti mekanisme Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang kini diproses melalui sistem OSS (Online Single Submission) oleh DPMPTSP untuk mendukung investasi dan penciptaan lapangan kerja. Pelayanan PBG juga tersedia di Mall Pelayanan Publik (MPP), meski saat ini DKI Jakarta baru memiliki satu MPP dari total 296 MPP secara nasional.
Salah satu syarat penerbitan PBG adalah Sertifikat Laik Fungsi (SLF), yang mencakup kelayakan sistem pencegahan dan mitigasi kebakaran. Dinas Pemadam Kebakaran biasanya memeriksa ketersediaan alat pemadam, jalur evakuasi, sprinkler, dan fasilitas keselamatan lainnya.
“Nah ini yang sedang di dalami oleh kepolisian dan juga nanti saya juga akan menurunkan tim dari kemendagri karena kita juga memahami aturan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Tito menjelaskan kronologi kejadian. Gedung Terra Drone terdiri dari enam lantai dan satu rooftop. Kebakaran bermula dari lantai satu yang digunakan sebagai tempat penyimpanan peralatan perakitan drone, termasuk baterai. Api diduga berasal dari area tersebut, namun penyebab pastinya masih dalam penyelidikan.
Peristiwa terjadi saat jam makan siang. Dari sekitar 76–80 karyawan, hanya 41 orang yang berada di dalam gedung. Mereka terjebak karena tidak memiliki jalur evakuasi ke bawah, sementara lantai dasar sudah dilalap api. Akibatnya, 22 orang meninggal dunia, diduga karena menghirup asap beracun, sementara 19 lainnya berhasil dievakuasi.
“Terjebak karena untuk turun kebawah tidak ada jalur ke bawah, kebakarannya di bawah sehingga wafat 22 orang, karena asap. Mungkin karbon yang terhisap beracun dan lainnya. Kemudian yang 19 berhasil evakuasi,” pungkasnya.
