Mengenal Grey Divorce, Fenomena Perceraian di Usia Senja yang Kian Marak

Ilustrasi perceraian/Foto : Dok. iStock Ilustrasi perceraian/Foto : Dok. iStock

Jakarta, GPriority.co.id – Belakangan ini, istilah gray divorce atau grey divorce, yang berarti perceraian di usia lanjut, ramai diperbincangkan publik. 

Istilah ini mencuat setelah kabar gugatan cerai anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Atalia Praratya, terhadap suaminya, mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, beredar luas.

Kabar tersebut mengejutkan publik karena pasangan ini telah menjalani bahtera rumah tangga selama 29 tahun.

Lantas, apa yang dimaksud dengan grey divorce?

Psikolog Chivonna Childs, PhD, menjelaskan bahwa grey divorce merujuk pada perceraian atau perpisahan yang terjadi pada usia 50 tahun ke atas. Pada tahap kehidupan ini, pasangan umumnya telah menjalin hubungan jangka panjang selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.

Berbeda dengan pasangan muda yang sering bercerai akibat perselingkuhan, kekerasan, masalah keuangan, atau kurangnya pengalaman membina hubungan jangka panjang, pasangan usia lanjut cenderung berpisah karena akumulasi persoalan yang berkembang seiring waktu.

Alasan Perceraian di Usia Lanjut

Menurut Dr. Childs, angka perceraian di usia lanjut sempat meningkat secara perlahan pada periode 1970–1990, lalu melonjak dua kali lipat pada 2010 dan terus menunjukkan tren kenaikan hingga kini. 

Ia menilai fenomena tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya harapan hidup, perubahan budaya, serta pergeseran cara pandang masyarakat terhadap institusi pernikahan.

“Ini bukan lagi abad ke-18, ke-19, atau bahkan ke-20, dan bertahan dalam pernikahan yang tidak memuaskan bukanlah hal yang perlu lagi,” kata Dr Childs dikutip dari Cleveland Clinic Health Essentials, Rabu (17/12).

Ia menambahkan, perempuan kini memiliki stabilitas dan fleksibilitas finansial yang lebih besar, serta kesadaran terhadap kesehatan mental yang semakin meningkat.

“Wanita memiliki stabilitas dan fleksibilitas finansial yang jauh lebih besar dalam hidup mereka, dan kita lebih memperhatikan kesehatan mental kita daripada sebelumnya. Kita tidak lagi terpaksa harus tetap berada dalam pernikahan demi stabilitas finansial,” tambahnya.

Selain itu, kata dia, ada beberapa alasan lain terjadinya perceraian di usia lanjut, diantaranya:

Selain faktor tersebut, Dr. Childs menyebut sejumlah alasan lain yang kerap melatarbelakangi perceraian di usia lanjut, antara lain:

  • Hubungan yang dirasakan sepihak, dengan perbedaan minat, impian, dan tujuan hidup
  • Pernikahan yang terasa stagnan
  • Kurangnya kepuasan emosional
  • Keinginan mencari koneksi yang lebih bermakna
  • Sindrom empty nest dan kebutuhan untuk mandiri
  • Dorongan untuk pengembangan diri, kesejahteraan mental, dan peningkatan kualitas hidup
  • Peristiwa besar yang mengubah hidup, seperti sakit berat atau pengalaman mendekati kematian

“Perceraian di usia lanjut seringkali merupakan pilihan untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang dan mengejar pertumbuhan pribadi,” turur Dr. Childs. 

“Dibutuhkan banyak keberanian bagi orang-orang untuk membuat keputusan ini, dan mereka biasanya melakukannya karena alasan yang tepat,” pungkasnya.