Menlu Retno: Pemerintah RI Mengatur Rencana Kepulangan WNI Luar Negeri

Jakarta,Gpriority-Dalam konferensi pers yang berlangsung pada Selasa,(31/3) Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengayakan,Pemerintah RI sedang mengatur rencana pemulangan WNI di luar negeri sesuai dengan kebijakan pergerakan lalu lintas barang dengan segala variasi yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing negara.

” Kebijakan-kebijakan ini tentunya membawa dampak bagi keberadaan WNI di luar negeri. Tadi juga sudah disampaikan oleh menko PMK salah satunya menyangkut kepulangan WNI ke Indonesia dalam jumlah jauh lebih besar dibanding masa yang biasa. Seperti kepulangan WNI dari Indonesia sebagai dampak dari perlakuan mgo dan yang kedua dampak kepulangan WNI akibat pemberhentian kapal pesiar dimana mereka bekerja,” ucap Retno.

Ditengah pembatasan di masing-masing negara, perwakilan republik Indonesia di luar negeri terus berupaya maksimal memberikan bantuan bagi WNI yang terdampak dari aturan tersebut.

Berdasarkan data jumlah WNI yang tinggal di luar negeri jumlahnya lebih dari satu juta orang.sementara untuk ABK yang bekerja di kapal-kapal pesiar jumlahnya sekitar 11.88 yang bekerja di delapan puluh kapal.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy mengatakan bahwa mereka juga akan memulangkan seluruh jemaah tablig yang berjumlah 1456.

Skema pemulangan jemaah tablig itu tetap akan melewati protokol kesehatan yang ketat. “Teman-teman kita yang baru tiba wajib mengisi health alert card yang disiapkan Kemenkes, Pak Menko sudah menyampaikan bagi yang menunjukkan gejala akan ditangani lebih lanjut, akan dilakukan karantina secara terpisah dan ditangani lebih lanjut,” tutur Retno.

“Sedangkan yang bergejala akan kita tetapkan sebagai PDP dan juga akan kita tempatkan karantina tapi sesuai arahan Bapak Presiden antara ABK, WNI dari Malaysia, dan jemaah majelis tablig akan kita tempatkan di tempat yang berbeda,” ucap Muhadjir.

Presiden Joko Widodo meminta arus kembalinya WNI dari beberapa negara diawasi ketat. Terutama tenaga kerja Indonesia (TKI) dari Malaysia, serta WNI yang bekerja sebagai kru kapal di luar negeri.(Hs)

Related posts