Jakarta, GPriority.co.id – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam adopsi inovasi dan transformasi digital, terutama di sektor manufaktur.
Hal ini tercermin dari capaian peringkat ke-8 dalam Global Innovation Index (GII) 2024 di antara kelompok negara-negara dengan level perkembangan ekonomi serupa, serta peringkat ke-43 dari 67 negara dalam IMD World Digital Competitiveness Ranking 2024.
“Sebagai negara besar yang kaya sumber daya alam, Indonesia belum mampu mengadopsi dan menerapkan inovasi secara optimal untuk mendukung pertumbuhan sektor manufaktur,” ujar Agus dalam acara Indonesia 4.0 Conference Expo 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta pada Rabu (17/9).
Agus menyebut terdapat enam indikator utama dalam GII 2024 menunjukkan adanya perbaikan jangka pendek yang perlu dilakukan Indonesia meliputi publikasi ilmiah, investasi litbang, pendaftaran paten internasional, konektivitas digital, penggunaan robot dan produktivitas berbasis digital.
Meski demikian, capaian tersebut belum mampu membawa Indonesia bersaing di level global secara optimal.
Maka itu, Agus meminta data pembanding dengan capaian GII tahun sebelumnya, serta informasi negara-negara yang berada di atas Indonesia untuk dijadikan acuan dalam perumusan kebijakan ke depan.
“Kita harus bisa belajar dari negara-negara di atas kita, untuk mencari policy yang tepat demi kepentingan nasional,” tegasnya.
Sementara itu, dalam laporan World Digital Competitiveness 2024 yang dirilis oleh IMD (Institute for Management Development), Indonesia naik dua peringkat ke posisi 43 dari 67 negara. Meski mengalami kenaikan, peringkat tersebut masih dianggap jauh dari memuaskan.
Salah satu indikator tertinggi bagi Indonesia adalah Future Readiness, yang mencakup sikap adaptif, kelincahan bisnis, dan integrasi teknologi informasi. Namun, Agus menegaskan bahwa kesiapan digital masih memerlukan dorongan besar, terutama sebagai stimulan bagi dunia usaha untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Sebagai solusi, pemerintah tengah menyiapkan terobosan “game changer” berupa pembentukan Green Industry Service Company (ISCO), yang bertugas menjembatani perusahaan, penyedia teknologi, dan akses pembiayaan hijau.
“Kita harus bantu perusahaan agar bisa transformasi dengan biaya serendah mungkin, dan tetap berdampak maksimal,” tambahnya.
Lebih lanjut, Agus mengajak seluruh pelaku industri di Indonesia untuk aktif membangun ekosistem industri 4.0 yang solid, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan daya saing di pasar global.
“Transformasi digital bukan pilihan, tapi keharusan. Sudah terbukti mampu meningkatkan kinerja perusahaan dan mendorong kemajuan industri nasional,” ucapnya.
